09 Sep 2019 09:01

Berhentinya Beasiswa Djarum Ancam Regenerasi Bulu Tangkis

MyPassion
Imam Nahrawi

BANYAK yang menyayangkan Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Djarum tahun ini adalah yang terakhir. Mulai legenda bulu tangkis, pelatih pelatnas (pelatihan nasional), hingga Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Bisa jadi, berhentinya tur audisi tersebut memperburuk regenerasi atlet bulu tangkis nasional.

 

Minarti Timur turut menyesalkan dihentikannya Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Djarum. Dia merupakan salah satu legenda bulu tangkis dan juga PB Djarum. Minarti bergabung pada tahun 1987. Selama karirnya, dia pernah meraih perak Olimpiade Sydney 2000 dan dua kali juara World Cup 1995-1996.

Menurutnya audisi sudah terlihat hasilnya. Melahirkan juara dunia seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo. ”Pembibitan bulu tangkis itu harus dari usia dini dan dengan biaya yang tidak sedikit. Sangat disayangkan kalau audisi ini akan dihentikan,” kata Minarti dilansir dari Jawa Pos (grup Manado Post).

”PB Djarum sudah berdiri sejak lama dan menjadikan atlet kelas dunia dari zaman Liem Swie King hingga Kevin. Kontribusinya besar dengan segala fasilitas selama di klub maupun penghargaan yang diberikan,” imbuhnya.

Terkait brand Djarum yang identik dengan rokok, Minarti tidak melihat hal tersebut. Justru dia prihatin dengan pihak yang mempermasalahkan sekarang. Padahal Djarum Foundation sudah berdiri sejak 1951.

”Sekarang persaingan dunia begitu ketat. Kita butuh atlet-atlet muda untuk dipilih menggantikan senior mereka. Kalau sekarang audisinya dihentikan, kan sayang banget gitu,” kata perempuan berusia 51 tahun itu.

Legenda bulu tangkis lainnya, Christian Hadinata menuturkan, berhentinya Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Djarum sama saja memutus mata rantai regenerasi bulu tangkis nasional. Khususnya, pembinaan di daerah. Dengan adanya audisi keliling Indonesia adalah upaya PB Djarum untuk menjemput bola. Mengakomodasi atlet-atlet daerah agar bisa ikut seleksi.

Sebelum 2006, audisi bulu tangkis hanya digelar di Kudus, Jawa Tengah.  Tentu, konsep audisi tersebut sulit diikuti oleh atlet yang berasal dari luar Jawa. Seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. ”Bagi atlet luar Jawa tentu memakan biaya yang besar. Ya kalau berhasil. Kalau gagal, cuma main sekali, kan kasihan,” ucap pria yang akrab disapa Koh Chris itu saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Makanya, sejak 2006, konsep audisi diubah. Tur keliling Indonesia. Sehingga atlet daerah seperti Manado, Balikpapan, dan daerah luar Jawa lainnya bisa ikut seleksi.

”Yah udah seperti ini tentunya disayangkan,” ujar peraih medali emas ganda putra Olimpiade 1972 Munich itu. Pembinaan atlet usia muda itu ibarat piramida. Lebar di bawah, lalu mengerucut ke atas. Artinya, pembinaan di daerah memang harus banyak dan menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Baru kemudian diseleksi untuk mencari atlet terbaik dan menjadi andalan.

123
Kirim Komentar