09 Sep 2019 09:53

18 Hari Hilang, ABK Sulut Akhirnya Dipulangkan

MyPassion
Petugas bersama para korban yang hanyut pada 27 Juli 2019, sudah tiba di Bandara Sam Ratulangi Manado kemarin. (WULANDARI MAMONTO/MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Setelah sempat hilang selama 18 hari, 8 korban KM Aleluya kembali berkumpul bersama keluarga. 8 orang ini merupakan anak buah kapal (ABK) KM Aleluya. Kemarin para korban dipulangkan ke Manado.

 

Kedelapan korban tersebut bernama Elieser Manoka, Rizky Rahim, Jufri Lalele, Musbal Mabiang, Jon Manuahe, Lesianus Baghiu, Alfri Frans dan Rival Frans. KM Aleluya diketahui hilang kontak 27 Juli lalu. Kemudian tanggal 28 Basarnas baru menerima laporan. Basarnas saat itu menerima info jika KM Aleluya mati mesin di perairan Sulawesi Utara.

"Setelah melakukan pencarian berhari-hari, operasi sempat dihentikan dan ditutup. Namun Basarnas tetap melakukan pemantauan apabila ada tanda-tanda dari KM Aleluya operasi dibuka kembali,” ungkap humas Basarnas Fery Arianto.

Menurut penjelasan Fery, mereka ditemukan oleh kapal lokal. Kemudian diserahkan kepada US Coast Guard yang sedang patroli.  

“Mereka kemudian dievakuasi ke negara Republik Palau. Sementara itu Kapal Aleluya ditarik oleh US Patrol Coast Guard dan dipantau oleh RCC Guam menuju pelabuhan Palau,” jelasnya.

Rasa haru tak bisa disembunyikan dari raut wajah para korban dan keluarga sesampai di Bandara Sam Ratulangi Manado.

“Saya dan keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kepala Kantor Basarnas Manado, Kemenlu dan seluruh tim yang sudah berupaya mencari dan menolong kami sampai pemulangan kami dari Palau. Hingga akhirnya saya bisa bertemu anak dan istri lagi dengan keadaan selamat bersama teman-teman ABK,” ucap salah satu ABK yang selamat Rizki Rahim.

Kepala Kantor SAR Gede Darmada menuturkan, tim mereka selalu berupaya untuk kerja semaksimal mungkin. “Kami juga turut mengapresiasi seluruh yang terlibat khusus nya KBRI di Palau dan di Jepang yang membantu pemulangan 8 korban. Semoga dari kejadian ini, kita dapat mengambil pelajaran dan pengalaman yang paling berharga untuk ke depan agar bisa lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan jiwa,” pesan Gede.

Perwakilan Kementerian Luar Negeri Yudhi juga mengungkapkan, mereka selalu siap jika ada orang Indonesia yang memerlukan bantuan.

“Kami selaku kemenlu, mengantar 8 korban dari proses pemuatan berkas-berkas untuk persyaratan pemulangan korban, sangatlah panjang. Jadi kami harap ini terakhir nelayan dari Sulut yang hanyut. Tapi kami akan mengurus semua warga Indonesia yang berada di luar negeri yang mengalami masalah, mulai dari pengurusan berkas dan pemulangan,” tutup Yudhi.(ctr-01/gnr)

Kirim Komentar