23 Agu 2019 11:43

Prostitusi Berkembang di Era Digital

MyPassion
TIM URC Totosik saat mengamankan salah satu perempuan di kamar 206 Wise Hotel.

MANADO--Maraknya pembongkaran prostitusi online di Sulut belakangan ini, menandakan perkembangan bisnis lendir tersebut tengah berada dalam era digital. Seakan tak mau ketinggalan dari penyedia jasa lainnya, esek-esek terus berevolusi mengikuti tren perkembangan zaman.

Waktu menunjukkan pukul 17.00. wartawan harian ini penasaran, dengan prostitusi online di aplikasi pesan instan. Pasalnya bisnis lendir dengan gaya digital tengah menjadi perbincangan hangat banyak kalangan, baik pengusaha, ASN, pegawai BUMN dan swasta. Atas dorongan tersebut, kami coba terjun langsung untuk mencari tahu, seperti apa penggunaan jasa esek-esek via online ini.

Berbekal aplikasi perpesanan yang telah diinstal, kami mulai mencari layanan yang katanya mulai banyak diminati ini. Pada fitur pengguna sekitar, untuk menandakan akun, para 'penyedia jasa' biasanya menaruh singkatan ST (Stay) dan BO (Booking Out) pada profil mereka. Kedua simbol ini menunjukkan ST berarti yang bersangkutan hanya menerima jasa di tempat yang telah ditentukan, misalnya hotel, spa, kos-kosan dan sebagainya.

Sedangkan BO, mereka menerima jasa panggilan. Untuk harga, bervariasi. Namun kebanyakan tergantung dari kecantikan para ‘pekerja’ yang akan memberikan layanan. Biasanya tarif mulai dipatok sebesar 1 juta hingga 800 ribu dalam waktu short time dan dua juta hingga 1,5 juta long time.

Pada sore tersebut, 17.40 WITA, harian ini berhasil mendapatkan pekerja dengan harga yang relatif murah, yakni 500 ribu untuk short time. Tanpa basa-basi saya pun langsung menuju ke salah satu hotel yang berada di Tanjung Batu. Dalam chatting Vika (nama samaran), langsung membeberkan nomor kamar yang sudah ditempatinya sejak dua hari lalu.

Ketika memasuki kamar 2*5 tampak seorang wanita berkulit putih dengan rambut panjang diikat. Menggunakan pakaian seksi berusia 20-an berusaha menyambut ramah. Namun keterpaksaan jelas terpancar dari sorot matanya, yang berusaha ditutupi dengan senyuman.

"Maso kak (masuk kak),” sapanya ramah sembari menuju pintu menjemput kedatangan saya. Saat mengunci pintu, ia pun langsung menyuruh saya bersiap dan tanpa basa-basi langsung menunggu di ranjang. Usai bergelut sekira 30 menit, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk bercakap-cakap, menghabiskan sebatang rokok.

“Vika umur brapa?,” tanya wartawan. Dengan nada malu ia pun menjawab 28 tahun. “Sudah lama bekerja seperti ini," “lumayan kak,” jawabnya. Kenapa tanya? serangnya balik. "Ohh cuma iseng aja. Ehh udah punya pasangan?," tanya kami kembali. Jawaban yang dilontarkan Vika pun membuat kami tercengang. “Sudah. Itu pacar saya di luar lagi menunggu," jawabnya santai.

Perasaan malu, bercampur aneh pun mulai menyelimuti saya. "Terus pacar kamu tidak marah?," tanya kami lagi. Dengan enteng Vika menjawab tidak. "Toh kami juga sama-sama menikmati hasil pekerjaan ini, untuk membayar uang kos, makan, uang bensin, setoran motor maupun sewa mobil untuk jalan-jalan. Malahan dian mensupport saya dengan berjaga di luar, agar ketika ada tamu yang rese, maupun tidak bayar, bisa langsung diringkus," tuturnya.

Vika menerangkan, mereka tidak sendiri dalam kemelut dunia hitam tersebut. “Ada pasangan lainnya disini. Itu mereka lagi konsumsi miras bareng bersama pacar saya. Jadi nanti kalo giliran pasangan lain dapat tamu, ya nanti pacar mereka berpindah kemari untuk nongkrong sembari menunggu,” terangnya.

Saat dicoba bicara dari hati ke hati, Vika pun mengaku sangat ingin sekali berhenti dari dunia kelam tersebut. "Namun mau bagaimana lagi, tidak punya pilihan selain bekerja seperti ini. Belum lagi pacar tidak bekerja. Di sisi lain tuntutan orangtua juga terpaksa membuat saya harus menjadi pemuas nafsu para hidung belang. Karena bagaimana saya bisa mengirimi mereka uang bulanan?," keluhnya.

Untuk mengurangi kecurigaan saya pun bergegas pamit. "Ok makasih, pamit dulu," tutur saya. Saat keluar kamar, saya baru memperhatikan di kamar samping yang ribut-ribut, ternyata ada empat orang pria bertato berusia 20 hingga 30 tahun yang duduk sambil asyik meneguk miras, ketika menuju lobby, para resepsionis pun tersenyum, seakan mengisyaratkan bahwa praktik terselubung tersebut, telah diketahui namun sengaja dibiarkan.(***)

Kirim Komentar