17 Agu 2019 10:59

Polemik di Upacara Kemerdekaan Unsrat, Enam Dosen Protes

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM - Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 membawah polemik di lingkungan universitas Sam Ratulangi Manado. Dimana saat upacara berlangsung, salah satu petugas yang membaca UUD 1945 diduga menambah kata-kata di dalam naskah.

 

Saat dikonfirmasi, juru bicara Unsrat Manado Max Rembang membantah dugaan tersebut. "Tidak ada yang menambah kurang, isu yang beredar tidak benar," tegasnya.

Dia menjelaskan, suasana upacara tadi ada yang berbeda yakni cara membaca UUD 1945 oleh Prof Benny Pinontoan dekan Fakultas FMIPA itu adalah sesuatu yang baru yakni secara improvisasi dengan intonasi-intonasi menekankan.

Misalnya, kata merdeka, bebas dari penjajahan, mencerdaskan kehidupan bangsa. "Jadi itu-itu saja yang ia tekankan tidak ada yang lain," ujarnya.

"Cuma memang pendapat setiap orang berbeda-beda. Ada sekitar 5 - 6 dosen yang protes dan tidak ada insiden lain. Juga ada beberapa orang berpendapat bahwa memang perlu ada improvisasi-improvisasi seperti ini. Karena memang UUD 1945 ini mulai dikerogoti oleh kelompok-kelompok tertentu," tandasnya. 

Dia menambahkan, ini penting untuk menyadarkan kita agar semangat menjaga NKRI, ideologi pancasila dan dasar negara.
Katanya, kalau misalnya mereka mau pidanakan itu tergantung mereka saja.

"Tidak ada aturan bagaimana cara membaca UUD 1945 dan yang diatur adalah pengubahan naskah. Kan tidak ada satu katapun yang diubah cuma intonasinya saja yang sedikit berbeda," tukasnya. (lin)

Kirim Komentar