17 Agu 2019 09:29

Kawanua Dibalik Kemerdekaan RI

MyPassion
(Kolase: Manado Post Online)

MANADOPOSTONLINE.COM—Peran orang Sulawesi Utara (Sulut) sangat vital melihat sejarah perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia. Para pahlawan berdarah kawanua banyak jasanya. Para pahlawan ini bergerak memerdekakan Indonesia dengan cara ‘beradu otak’ (kepintaran, red). Pencapaian tersebut membuat para kawanua diberi penghargaan dan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Apresiasi tertinggi itu bisa menjadi teladan untuk generasi muda saat ini.

 

Dalam edisi peringatan Hari Kemerdekaan ke-74 RI 17 Agustus 2019, Manado Post membeber pahlawan nasional asal negeri Nyiur Melambai yang memiliki peran untuk membangun negeri.

 

Yang pertama, Dr Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau dikenal dengan Sam Ratulangi. Lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890. Sam Ratulangi adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulut.

Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ yang artinya ‘manusia hidup untuk menghidupkan orang lain’.

Sam Ratulangi termasuk anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan merupakan Gubernur Sulawesi pertama. Tahun 1919, Sam Ratulangi pindah ke Yogyakarta untuk mengajar matematika dan sains di sekolah teknik Prinses Juliana School.

Setelah tiga tahun mengajar, ia pindah ke Bandung dan memulai perusahaan asuransi Assurantie Maatschappij Indonesia dengan Roland Tumbelaka, seorang dokter yang juga berasal dari Minahasa. Ini adalah contoh pertama yang diketahui dari kata ‘Indonesia’ yang digunakan dalam dokumen resmi.

Ada yang mencatat bahwa Soekarno pertama kali bertemu Sam Ratulangi ketika ia mengunjungi Bandung untuk sebuah konferensi. Dia melihat nama perusahaan Sam Ratulangi dengan kata ‘Indonesia’. Dia penasaran dengan pemilik usaha ini dan bertemu dengan Sam Ratulangi.

Selanjutnya ada Alexander Andries Maramis, lahir di Manado, Juni 1897, adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama. Keponakan Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.

Maramis diangkat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945. Dalam badan ini, Maramis termasuk dalam Panitia Sembilan. Panitia ini ditugaskan untuk merumuskan dasar negara dengan berusaha menghimpun nilai-nilai utama dari prinsip ideologis Pancasila yang digariskan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.

Rumusan ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Maramis mengusulkan perubahan butir pertama Pancasila kepada Drs. Mohammad Hatta setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo.[butuh rujukan] Pada tanggal 11 Juli 1945 dalam salah satu rapat pleno BPUPK, Maramis ditunjuk sebagai anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang ditugaskan untuk membuat perubahan-perubahan tertentu sebelum disetujui oleh semua anggota BPUPK.

Pada tahun 1976 bersama Hatta, A.G. Pringgodigdo, Sunario Sastrowardoyo, dan Soebardjo, Maramis termasuk dalam "Panitia Lima" yang ditugaskan Presiden Suharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.

Kemudian ada Lambertus Nicodemus (LN) Palar, yang juga terkenal dengan nama Babe Palar. Pada tahun 1947, saat Babe Palar bergabung dengan usaha pengakuan internasional kemerdekaan Indonesia dengan menjadi Wakil Indonesia di PBB pada tahun 1947, akhirnya negeri ini bisa mendapat pengakuan secara De Fakto. Babe Palar, adalah anak seorang guru zendeling (pewarta injil). Babe Palar lahir di Rurukan, Tomohon, 5 Juni 1900.

Berikutnya, Arie Frederik Lasut, lahir di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, 6 Juli 1918 dan wafat di Pakem, Sleman, Yogyakarta, 7 Mei 1949 pada umur 30 tahun. Adalah seorang Pahlawan Nasional dan ahli pertambangan serta geologis. Lasut terlibat dalam perang kemerdekaan Nasional Indonesia dan pengembangan sumber daya pertambangan dan geologis pada saat permulaan negara Indonesia. Arie Lasut adalah putra tertua dari delapan anak, pasangan Darius Lasut dan Ingkan Supit. Lasut mendapat penghargaan Pahlawan Pembela Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia pada 20 Mei 1969.

Adapula dua bersaudara, Alex Mendur (1907 - 1984) adalah salah satu fotografer yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Bersamanya ada saudara kandungnya Frans Mendur, lahir tahun 1913– meninggal tahun 1971. Adalah fotografer yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Bersama saudara kandungnya tersebut, mereka turut mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Baru pada 9 November 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi kedua fotografer bersejarah Indonesia ini, Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur, penghargaan Bintang Jasa Utama.

Putra Minahasa sang pahlawan foto itu kini telah tiada, namun generasi berikut, wajib meneruskan dengan semangat nasional dan karya-karya foto yang baik, karya foto yang mengutamakan fakta dan peristiwa bersejarah.

Penerima gelar pahlawan asal Bumi Nyiur Melambai yang terakhir adalah Bernard Wilhelm Lapian, lahir di Kawangkoan, 30 Juni 1892 dan meninggal di Jakarta, 5 April 1977 pada umur 84 tahun.

Adalah seorang pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam pelbagai bidang dan dalam rentang waktu sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk yang dikendalikan pemerintah, BW Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya mendeklarasikan berdikarinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933, yaitu suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri, yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk.

Pada masa revolusi kemerdekaan, BW Lapian sebagai pimpinan sipil saat itu berperan besar pada momen heroik Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Karena ketokohannya, pada masa kemerdekaan dipercayai untuk menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1950-1951, yang berkedudukan di Makassar. Pemberian tanda jasa untuk BW Lapian diberikan Presiden Joko Widodo kepada ahli waris Louisa Magdalena Gandhi Lapian.

Gelar Pahlawan Nasional tersebut diberikan kepada BW Lapian karena ia merupakan sosok yang ikut merebut kekuasaan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama saat peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946.

Selanjutnya Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie Tjeng Tjoan, lahir di Manado, Sulawesi Utara, 1911. Adalah salah seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL, Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku lalu PRRI/Permesta.

Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. Menurut kesaksian Jenderal Besar TNI AH Nasution pada 1988, prestasi John Lie ”tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.

Ketika Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, dia memutuskan bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap, Jawa Tengah, dengan pangkat Kapten.

Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor.

Kemudian dia memimpin misi menembus blokade Belanda guna menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya. Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi.(gnr)

Kirim Komentar