15 Agu 2019 08:39
Menelisik Asal-Usul Waruga

Negeri Tua yang `Dihuni` Panglima Perang

MyPassion
Situs peninggalan zaman megalithic di Kabupaten Minahasa Utara, saat dikunjungi, Rabu (14/8) kemarin. (VANLY REGOH/MP)

Bagi orang Minahasa waruga tidak asing lagi. Waruga atau kuburan tua adalah peti kubur peninggalan zaman megalithic orang Minahasa yang berkembang pada awal abad ke-13 SM. Waruga ini terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian.

 

Laporan: Vanly Regoh, Minut

BAGIAN atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang. Di Kelurahan Airmadidi bawah, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara terdapat lokasi ‘negeri tua’ yang terkumpul dan tertata rapi.

Untuk ke sana hanya dekat, memakan waktu sekira 5 menit dari Terminal Airmadidi jika menggunakan kendaraan roda empat, dan jika kita memilih berjalan kaki hanya memakan waktu hampir 15 menit.

Di tempat ini terkumpul sebanyak 153 waruga dengan bentuk dan ciri khasnya masing-masing. Yang konon dikumpulkan pada masa penjajahan Belanda, yang kala itu pula turut membantu warga setempat untuk berkumpul bersatu dalam membebaskan lahan, untuk mengumpulkan waruga-waruga tersebut pada satu tempat.

Waruga yang paling pertama dijumpai atau waruga yang mempunyai tempat khusus disertai dengan atap yaitu waruga dari Opo Wagiu yang merupakan Tumani Umbanua Kumelembuai.

“Awalnya Opo Wagiu datang dari Pinabetengan menuju ke utara bersama masyarakatnya. Saat mencari air iya mendapatkan air Tumatenden kemudian mereka bermukim hingga menjadi kampung dan memberikan nama Kumelembuai,” cerita Yohan Mandagi, penjaga waruga Komplek Airmadidi bawah, saat diwawancarai kemarin.

12
Kirim Komentar