13 Agu 2019 09:18

1.541 Perempuan di Sulut Terancam Menjanda

MyPassion

Lanjutnya menikah adalah ibadah. Ketika suami/istri sudah menggugat cerai patut dipertanyakan iman mereka. “Menikah itu direstui Allah untuk beribadah kepadanya. Ketika kita bercerai maka bisa dikatakan kita tidak mampu beribada kepada-Nya,” lanjutnya.

Persoalan ini iku mendapat tanggapan dari pemuka agama. Ketua MUI Sulut Abdul Wahab Abdul Gafur menekankan, perlunya penerapan kembali UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, setiap insan yang akan menikah harus memenuhi kriteria yang diatur dalam UU itu.

“Dengan menerapkan lagi UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, ketika kedua mempelai harus sudah berusia matang dan dewasa untuk diperbolehkan menikah. Kenapa begitu? karena sekarang ini faktor iman sudah sangat rendah makanya perceraian meningkat," jelas Kyai Abdul Gafur.

Ia menambahkan faktor ekonomi, ketidakmatangan dalam berfikir serta pernikahan dini menjadi penyebab utama perceraian. “Dan perceraian itu halal, tapi sangat dibenci Allah,” lanjut Kyai.

Dalam kekristenan sendiri perceraian tidak dibenarkan dalam AlKitab. Menurut Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM Pdt Dr Hein Arina, ketimpangan yang terjadi di lingkungan sosial menjadi salah satu faktor perceraian.

“Sekarang ini kebanyakan rumah tangga tidak mempertimbangkan dari segi peraturan agama. Ketidakmatangan serta pengaruh buruk lingkungan sosial juga membuat mereka dengan mudahnya memutuskan bercerai,” singkat Pdt Arina.

Dari kaca mata hukum, Toar Palilingan MH menjelaskan, faktor utama terjadinya perceraian karena pondasi kedua bela pihak tidak kuat. “Pasti hanya berdasarkan cinta saja tanpa pertimbangan lain,” tuturnya.

Ia pun menjelaskan, sebenarnya yang menjadi pengikat sebuah pernikahan adalah agama. “Seharusnya agama itu alasan mereka bersama, yang dilegalkan oleh hukum. Bukan malah sebaliknya hukum melegalkan pernikahan dan hukum juga melegalkan perceraian, makanya dengan mudahnya mereka bercerai,” kritiknya.

Lanjut Wakil Dekan III Fakultas Hukum Unsrat tersebut, harusnya yang dikuatkan adalah iman. Dengan begitu kedua pihak mampu melewati berbagai macam badai rumah tangga. “Coba ditingkatkan lagi imannya. Banyak sholat, ibadah di gereja dan yang terpenting dalami agama dan bawa terus pernikahan di jalan agama,” tutup Palilingan.(ctr-02/gnr)

123
Kirim Komentar