12 Agu 2019 09:30

Nilai Tukar Petani Sulut di Bawah Gorontalo, Terendah Kedua se-Sulawesi

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Petani Sulut dinilai masih jauh dari kata sejahtera. Bukan tanpa sebab. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut periode Juli 2019, Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi salah satu tolak ukur kesejahteraan, hanya bertengger di peringkat dua terbawah di Sulawesi, dengan angka 94,61 persen. Angka tersebut jauh di bawah Gorontalo yang berhasil mencapai indeks NTP sebesar 103,83 persen (lihat grafis). 

 

Kepala BPS Sulut Hartono menjelaskan, dibandingkan Juni, NTP Nyiur Melambai naik 0,74 persen, dari 93,91 persen menjadi 94,61 persen. Meskipun mengalami kenaikan, menurutnya NTP tersebut masih belum maksimal dan masuk dalam posisi terendah kedua se-Sulawesi. Sehingga membutuhkan usaha dari berbagai pihak.

“Perkembangan NTP Sulut hingga Juli kemarin masih berada di bawah 100. Keadaan ini menunjukkan jika daya beli petani secara umum belum membaik. Dibandingkan kondisi sebelumnya,” katanya pekan lalu di kantor BPS.

Dia pun berharap ada kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk menjamin produk-produk pertanian di Sulut. Agar kesejahteraan petani bisa terus membaik dan tidak akan melemah.

“Harus ada kebijakan dari pemerintah. Khususnya untuk merumuskan masalah NTP. Agar di bulan berikutnya, NTP bisa mengalami kenaikan,” sarannya.

Menanggapi hal ini Kepala Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat menekankan pentingnya untuk menggenjot industri pengolahan.  Dia tak menampik jika NTP bukan ukuran  terbaik menggambarkan kesejahteraan petani. Namun lanjutnya NTP merupakan indikator penting yang layak dijadikan indikator kemampuan daya beli petani.  

Hutabarat pun menyoroti sampai saat ini harga kopra dan komoditi andalan Sulut lainnya masih belum pulih. Sehingga menyebabkan terjadinya kontraksi pada pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian Sulut. "Harga koprah turun lagi. Padahal Sulut penghasil kelapa terbesar. Inilah yang menjadi pengaruhnya,” katanya, sembari menambahkan persoalan NTP Sulut perlu diperhatikan bersama.  Karena ini menyangkut kesejahteraan.

"Harga jual petani memberi margin bagi naik turunnya NTP. Perlu ada perbaikan ke depan untuk meningkatkan NTP kita lebih baik lagi. Kami akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk mencegah terjadinya deflasi. Agar harga jual produk petani naik. Pun dengan inflasi, agar para petani tidak kesulitan dalam membeli produk barang dan jasa. Agar harga yang diterima dan dibayarkan petani seimbang dan perekonomian akan membaik di berbagai sektor khususnya pertanian,” dia memastikan.

Di sisi lain, Ekonom Sulut Bambang Hermanto menuturkan, fenomena menurunnya NTP Sulut sudah bisa ditebak dari awal. Mengingat semua produk pertanian yang menjadi andalan Sulut seperti kopra dan cengkih masih belum stabil. Bahkan pernah anjlok. Para petani pun semakin tercekik. Menurunnya NTP ini juga mempengaruhi semangat kerja para petani.

Produksi pertanian bisa menjadi lesu. Karena tidak ada keuntungan yang didapatkan hanya kerugian. Alhasil daya beli menurun. “Hal ini butuh keseriusan pemerintah. Agar pertanian Sulut yang menjadi penopang utama Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut bisa terus bergeliat. Ini harus diseriusi dan menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama,” imbaunya.

Hizkia Tasik, ekonom lain menilai, berdasarkan data NTP Sulut tiga bulan terakhir, cenderung lebih rendah dari bulan yang sama tahun lalu. Dibandingkan dengan regional Sulawesi, NTP Sulut menempati peringkat kedua terendah. Fakta ini menunjukkan bahwa Sulut perlu banyak berbenah dalam perbaikan kesejahteraan petani.

Jika NTP di bawah 100 berarti petani mengalami defisit. Dilihat dari harga, kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Dilihat dari sisi pendapatan, pendapatan petani turun lebih kecil dari pengeluarannya.

“Kemampuan tukar produk yang dijual petani di Sulut dengan produk yang dibutuhkan dalam produksi dan konsumsi rumah tangga cukup rendah dan tingkat daya saing produk pertanian dibandingkan dengan produk lain juga rendah,’’ jelasnya.

Harga, sambungnya, merupakan salah satu faktor utama penentu NTP. Pada umumnya, harga ini dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor pasar dan intervensi.

Jika faktor pasar menghasilkan harga yang tidak menguntungkan petani, maka petani perlu melakukan spesialisasi dan peningkatan kualitas sehingga biaya produksi bisa ditekan dan margin keuntungan bisa meningkat atau jumlah produksi meningkat. Selain itu, intervensi pemerintah juga bisa diambil selama tidak melukai pasar sejenis, pasar substitusi atau pasar komplementer.

Akademisi Unsrat itu pun menekankan pengendalian inflasi merupakan salah satu intervensi harga yang perlu dilakukan. Namun perlu diingat juga keseimbangan intervensi harga. Jika intervensi harga lebih banyak berdampak pada pengurangan harga produksi dibanding harga konsumsi maka intervensi tersebut justru akan membuat NTP menyelam.

Perlu diingat bahwa tingkat inflasi yang baik tidak selalu tingkat rendah tapi juga tingkat yang stabil. Jika inflasi ditekan terus, maka insentif pihak penjual akan terus berkurang di saat insentif pembeli meningkat. Tapi meskipun tingkat inflasi rendah bahkan mendekati nol, jika stabil maka tidak akan ada kekuatiran atas jatuhnya harga komoditas secara agregat.

“Rendahnya NTP menjadi signal untuk melakukan spesialisasi produk serta peningkatan kualitas khususnya komoditas yang diunggulkan,” kunci alumnus Georgia State University tersebut. (ayu/gnr)

Kirim Komentar