01 Agu 2019 09:22
Tiap Pekan 2 Bocah Jadi Korban

Sulut Rawan Kekerasan Seksual Anak

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Kekerasan terhadap anak di Sulawesi Utara masih marak. Banyak dari mereka dianggap belum mendapat perhatian serius dari lingkungan. Baik dari keluarga, pendidikan, maupun keagamaan. Akibatnya anak terlantar dan sering jadi objek beragam kekerasan.

 

Misalnya baru-baru ini. Kasus pelecehan seksual terjadi di Kota Tomohon yang baru saja menyandang predikat Kota Layak Anak (KLA). Ada dua anak di bawah umur jadi korban pelecehan seksual, 29 Juli belum lama ini di kota bunga.

Di Minahasa Selatan pun demikian. Seorang lelaki diamankan kepolisian karena jadi tersangka tindak pidana persetubuhan terhadap anak di bawah umur 27 Juli.

Masih di Juli, oknum warga Bantik, Beo, Talaud juga diamankan petugas. Selasa (9/7). Pasalnya, pelaku diduga mencabuli anak perempuan di bawah umur, yang berusia 12 tahun. Dan masih banyak lagi contoh kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Bahkan data LSM Swaraparangpuang, tahun lalu kasus perkosaan anak mencapai        86. Sementara pelecehan 24. Totalnya 110. Jika dirata-ratakan, 110 dibahagi 12, tiap bulan bisa ada 9 kasus. Bahkan didapati, tiap pekan ada 2 hingga 3 kasus terjadi.

Bidang Advokasi dan Perlindungan Swara Parangpuan (Swapar) Nurhasanah  menilai, perempuan dan anak korban kekerasan tak bisa ditangani dengan baik kalau tidak ada anggarannya.

“Padahal banyak layanan yang harus disediakan untuk penanganan korban. Misalnya pendampingan korban itu tidak selesai sampai pelaku dihukum. Tetapi hingga korban sembuh dari trauma,” ucapnya.

Dia menambahkan perda yang telah ada tidak mengakomodir layanan yang dibutuhkan korban. “Apalagi korbannya anak. Pemerintah harus memikirkan bagaimana menghilangkan trauma korban dan masa depannya,” tegasnya.

Anak-anak saat ini sedang mengalami urgensi kekerasan. Lantas bagaimana memberikan perlindungan terhadap anak bawah umur, guna menjaga masa depan mereka agar tetap cerah?

Pola didik orangtua yang mulai termakan zaman dan minimnya pendidikan karakter anak, jadi salah satu biang kerok. Ahli Psikologi Dr Deitje Solang menjelaskan, harusnya Hari Anak beberapa waktu lalu menjadi bahan evaluasi untuk semua orang. “Harusnya peringatan hari anak bukan hanya jadi momentum seremonial saja yang tiap tahun kita rayakan,” tuturnya kemarin (31/7)

Dipaparkan, sekarang anak-anak sedang menghadapi perkembangan zaman yang sangat menakutkan. Jika tidak diberikan edukasi yang baik, berbahaya.

“Anak-anak kita nanti tidak akan sehat secara mental jika kita tidak memberikan pemahaman cara menghadapi dunia serba teknologi ini. Peran orangtua sangatlah penting, karena masa sensitif anak di usia 3,5 tahun hingga 5 tahun masih berada setiap saat dengan orangtua,” paparnya. “Sebab sekolah hanyalah penyeimbang bagi pengetahuan anak. Selebihnya lingkungan rumahlah yang sangat berpengaruh,” lanjut Solang.

Ia pun menyayangkan jika pendidikan karakter tidak diterapkan sedini mungkin. Pasalnya akan berdampak ketika anak dewasa. "Ketika anak tidak dibentuk sedari kecil maka jangan heran jika besar dia menjadi berandalan. Lagi-lagi saya tekankan peran orangtua sangat penting," ungkapnnya.

Harusnya orangtua sebelum memiliki anak sudah belajar bagaimana pola mengasuh anak yang efektif. “Anak akan terbiasa jujur jika sedari kecil dibelajarkan. Begitupun sebalikanya anak akan jadi pemberontak jika orangtua tidak tuntas dalam mengasuhnya.

“Jika anak sering dipukul dan orangtua juga tidak tuntas dalam mendidik karakter anak, maka secara psikologis dia akan mengalami cacat mental. Dan itu akan berpengaruh untuk tumbuh kembangnya," jelas Solang

123
Kirim Komentar