30 Jul 2019 10:03

Terobosan Mendag Tingkatkan Ekspor Indonesia-Tiongkok

MyPassion
Pertemuan bilateral Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dengan Minister of General Administration of Custom China Ni Yuefeng di Kantor GACC Beijing.(Kementerian Perdagangan RI)

MANADOPOSTONLINE.COMMengawali rangkaian kegiatan kunjungan kerjanya ke Tiongkok 18-22 Juli 2019, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita telah bertemu dengan Minister of General Administration of Custom China (GACC) Ni Yuefeng di Kantor GACC Beijing, guna membahas hambatan perdagangan yang dihadapi dalam ekspor Indonesia ke Tiongkok, Jumat (19/7) lalu.

Pertemuan bilateral tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraan dan kesepakatan yang sudah dilakukan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Xi Jinping di Osaka, Jepang beberapa waktu lalu.

“Pemerintah mengharapkan agar Tiongkok memberi kemudahan atas ekspor sarang burung walet, buah-buahan tropis seperti nanas, buah naga, alpukat, durian, serta produk perikanan. Menteri Ni Yuefeng merespon dengan baik dan akan menindaklanjuti permasalahan yang disampaikan Indonesia. Untuk mempercepat proses tersebut, pihak Indonesia mengusulkan pembentukan joint working group,” jelas Mendag.

Tindak lanjut dari pertemuan ini juga akan dilakukan dalam pertemuan dengan Mendag Tiongkok dan pertemuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) Tingkat Menteri yang dijadwalkan pada 1-3 Agustus mendatang.

Dalam kesempatan berbicara di Kongres Tahunan ke-5 Asosiasi Industri Sarang Burung Walet dan bertemu dengan Ketua CAWA (China National Agriculture Wholesale Market Association) serta angota-anggotanya, Duta Besar Djauhari Oratmangun yang ikut mendampingi Mendag, mengajak para importir membantu meningkatkan ekspor produk-produk pertanian dan kelautan Indonesia ke Tiongkok.

Sementara itu, Mendag juga mengajak para importir sarang burung walet Tiongkok untuk berinvestasi di Indonesia. Diketahui Indonesia merupakan penghasil utama sarang burung walet untuk diolah dan diekspor kembali ke Tiongkok, negara-negara ASEAN, dan Australia.

Ekspor sarang burung walet Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebesar 70 ton dengan nilai USD 140,5 juta dari 21 perusahaan. Untuk meningkatkan ekspor sarang burung walet, saat ini tujuh perusahaan lainnya dalam proses verifikasi untuk mendapatkan sertifikasi dari CNCA. Kehadiran Mendag di Tiongkok guna mempercepat proses sertifikasi dimaksud.

Mendag juga berkesempatan mengunjungi Xinfadi International Exhibition Center of Agricultural Products di Beijing (19/7) untuk studi agar pengembangan pasar rakyat di Indonesia dapat dilakukan secara tepat sasaran sesuai kepentingan rakyat.

Mendag melihat konsep pasar induk yang terintegrasi dengan baik sehingga dapat memperpendek mata rantai distribusi produk-produk pertanian dan peternakan yang menguntungkan petani dan peternak.

Selain kunjungan di Beijing, Mendag juga berkunjung ke Shanghai guna bertemu dengan pengusaha Indonesia yang tergabung dalam anggota Indonesia Chamber of Commerce (INACHAM) di Shanghai (20/7). Pertemuan dimaksudkan untuk menerima masukan terkait hambatan perdagangan dengan Tiongkok.

Salah satu isu yang dibahas terkait perlakuan impor yang diterapkan Tiongkok dan perbedaan tarif beberapa produk dengan negara lain. “Kami berupaya mendapatkan tarif yang sama dengan yang diterapkan Tiongkok kepada negara lain dan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi untuk memperoleh hal itu,” ungkap Mendag.

Mendag juga mengapresiasi langkah Duta Besar Djauhari Oratmangun yang telah memprioritaskan diplomasi ekonomi dan menampung berbagai keluhan yang masuk serta melakukan lobi. Di Shanghai, Mendag meresmikan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai yang merupakan pusat promosi Indonesia yang pertama di Tiongkok (22/7).

“Peran dan keberadaan ITPC di negeri tirai bambu sangat penting karena Tiongkok merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Bukan hanya sebagai lembaga pemerintah, namun juga bertindak sebagai agen promosi bisnis dan produk Indonesia di kawasan Tiongkok. Maka itu, ITPC Shanghai siap melayani para pelaku usaha di Tiongkok selama 24 jam," ujar Mendag.(can)

Kirim Komentar