30 Jul 2019 09:48

Tambang Emas `Angker` Kembali Minta Korban, Dua Warga Tewas

MyPassion

“Memang kewajiban pemda, karena mereka adalah masyarakat kita. Tapi kan alangkah baiknya sebelum terjadi sudah diantisipasi lebih dulu,” bebernya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bolmong Haris Dilapanga sebelumnya juga menegaskan, tempat tersebut sudah dilarang oleh pemrov dan pemda. Tapi sejauh ini masyarakat masih melakukan aktivitas penambangan.

“Jadi mereka tidak mengindahkan teguran dari pemrov dan pemda, bahkan dari BPBD pun sudah mengingatkan ancaman atau bahaya jika masih melakukan penambangan,” ujarnya.

Apalagi di lokasi rebutan katanya, itu sudah tidak teratur dan tidak lagi memperhatikan tingkat keselamatan dan sebagainya. "Memang rawan sekali, tapi mereka tetap ingin melakukan penambangan," bebernya.

“Kalau untuk beralih profesi lanjutnya, ini yang sulit dilakukan karena jelas sampai saat ini pun mereka tetap melakukan penambangan di situ. Bahkan ada yang pergi pada malam hari. Jadi kadang tidak bisa diawasi,” sambungnya.

Karena pemerintah tidak bisa mengawasi 1 x 24 jam, kecuali katanya kalau sudah sistem blokade oleh petugas, kemungkinan akan berhenti. Tapi kalau masih seperti ini, tidak akan berhenti. 

“Karena sepanjang mereka punya peluang, maka mereka pun selalu ada keinginan untuk bekerja di sana. Kira-kira seperti itu, karena kondisinya,” bebernya.

Kata Dilapanga pemrov harus memiliki tindakan tegas terkait hal ini. “Kalau saya lebih tegaslah. Kalau memang diadakan penutupan, ya memang benar-benar ditutup. Artinya, tidak lagi diberi peluang bagi penambang untuk diberi masuk melakukan penambangan lagi,” katanya.

“Karena kalau sudah dibuat seperti itu, pasti mereka akan beralih profesi. Tapi karena masih ada peluang, maka ya tetap bekerja di situ. Persoalannya kan godaan di emas ini cukup menggiurkan masyarakat penambang, karena kalau ‘ta sua’ (dapat emas), itu jika dihitung per jam bisa mendapatkan puluhan juta pendapatannya. Maka itu merangsang keinginan mereka,” pungkasnya.(cw-03/gnr)

CATATAN KORBAN PETI DI BOLMONG:

1. 3 Juni 2018

Nasib nahas menimpa enam penambang Desa Bakan, Kecamatan Lolayan. Ketika sementara melakukan aktivitas penambangan, Minggu (3/6) siang, mereka tiba-tiba tertimbun dalam lubang tambang emas ilegal tersebut. Semua meninggal.

2. 28 Februari 2019

Hingga hari terakhir pencarian, total korban yang dievakuasi berjumlah 45 orang. Dengan rincian selamat 18 warga. Sementara meninggal ada 27 warga, tiga jenazah diantaranya tak bisa teridentifikasi lagi.

3. 25 Juni 2019

Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Desa Bakan, tersebut kembali memakan satu korban jiwa, Selasa (25/6). Posisi material yang hendak diambil sangat curam, sehingga korban kesulitan mengambil bebatuan dan terperosok sejauh 15 meter, disusul longsoran bebatuan.

4. 28 Juli 2019

Sesuai data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bolmong, korban meninggal berasal dari Desa Toruakat, Kecamatan Dumoga Timur, atas nama Candra Sabir alias Ang (33) dan Suhendri Anggol alias Su (41).

123
Kirim Komentar