26 Jul 2019 10:52

Kasus Perkosaan Nodai Penghargaan

MyPassion
Ilustrasi.(dok)

MANADOPOSTONLINE.COM—Predikat Kota Tomohon, sebagai Kota Layak Anak (KLA) yang masih "fresh" diberikan pemerintah pusat. Sepertinya perlu ditinjau kembali. Hal mengiris hati justru terjadi kepada anak di Kota Bunga, mengindikasikan belum optimalnya peran stakeholder terkait, meminimalisir potensi terjadinya kekerasan kepada anak-anak. Betapa tidak, seorang siswi sebut saja Krisan(16) asal salah satu kelurahan di Kecamatan Tomokon Barat, harus jadi pemuas nafsu birahi. Parahnya lagi, terduga pelaku  pemerkosaan juga masih di bawah umur.

Adegan yang layaknya dilakukan orang yang sudah menikah, itupun terkuak  Minggu(21/7) lalu, usai korban mengaku telah terjadinya peristiwa seksual yang menimpanya.

Sontak, hal ini membuat keluarga korban naik pitam. Laporan polisi (LP) pun melayang ke meja Satreskrim Polres Tomohon, tertanggal 22 Juli 2019. Yang jadi dasar penindakan Tim Resmob,  membekuk  terduga kasus persetubuhan terhadap anak, FK (14) yang juga diketahui masih satu kelurahan dengan korban.

Menanggapi hal ini, Tokoh Masyarakat Kota Tomohon Danny Tular angkat bicara. Dikatakan pria vocal ini, sejumlah upaya meminimalisir potensi terjadinya kekerasan anak, terlebih aksi tidak senonoh. Lewat peran dinas terkait, dinilai hingga kini belum maksimal. Parahnya lagi, sejumlah sosialisasi dan penyuluhan justru dilakukan dilakukan di luar daerah, yang tingkat efektivitasnya belum menyentuh secara langsung pada objek atau sasaran perlindungan.

"Masa baru terima penghargaan sudah ada kejadian seperti ini, SKPD terkait harusnya malu dan merasa ikut bertanggungjawab, lah mereka memang ditugaskan untuk memproteksi anak dan perempuan kok," ujar Tular dengan nada tinggi.

Dirinya meminta tak hanya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A)  Kota Tomohon, untuk lebih fokus memaksimalkan perannya. Melakukan pendekatan secara langsung, terperinci dan sesuai hasil analisa. Bukannya, sekedar mengumpulkan masyarakat, undang pembicara dari luar daerah atau provinsi, lantas selesai tanpa outcome yang jelas.

"Coba dihitung kasus-kasus seperti ini di Tomohon, naik atau tidak. Kalau bertambah, artinya penanggungjawab di SKPD itu gagal. Bahkan, seluruh OPD yang terkait dengan hal ini juga bisa dikatakan belum mumpuni," timpalnya.

"Kalau perlu langsung inventarisir di mana saja Potensi terjadinya tindak kekerasan pada anak, apa dasar dan faktor-faktor pendorong terjadinya aksi itu, tangkal dan langsung difasilitasi. Itu jauh lebih efektif ketimbang bimtek dan sosialisasi," ketusnya lagi.

Terpisah, Kepala Dinas P3A Olga Karinda saat dimintai keterangannya pun tak menampik pola dan pendekatan preventif yang dilakukan belum optimal.

"Memang masih ada anak-anak yang kurang mendapatkan pola pengasuhan yang benar. Akhirnya jiwa nya rapuh dan mudah tergoda melakukan hal negatif. Mendapatkan KLA bukan berarti tidak ada kasus seperti ini," kata Karinda.

"Tapi sistem yang kita design untuk menangkal hal ini sudah jalan kok, itu alasannya kenapa kita dapat penghargaan kemarin," kelitnya.

Dirinya menambahkan, pelaku yang masih masuk kategori anak-anak pun tak lepas dari jeratan hukum. Meski dalam penerapannya perlu penyesuaian yang membedakan dari orang dewasa.

Sementara itu, Kapolres Tomohon AKBP Raswin Bachtiar Sirait SIK melalui Kasat Reskrim AKP Ikhwan Syukri SH,SIK membenarkan telah diamankannya terduga pelaku pemerkosaan guna kepentingan penyidikan. " Saat ini sudah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," tukasnya.(mwa/jul)

Kirim Komentar