24 Jul 2019 09:43

Persoalan Penerimaan Tumou Tou, DPRD Bakal Panggil Unsrat

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Terkait persoalan penerimaan mahasiswa melalui jalur Tumou Tou, Wakil Ketua Komisi IV Inggried Sondakh mengatakan pihaknya akan mengagendakan pemanggilan pada Unsrat.

 

“Memang harusnya tak boleh melenceng dari inti dan makna Tumou Tou. Ini jadi catatan kami,” kata politikus Partai Golkar ini. Dia melanjutkan, untuk memanggil hearing Unsrat, Komisi IV akan berkoordinasi dengan pimpinan dewan.

“Dalam waktu dekat. Karena esok (hari ini) sudah ada agenda studi banding. Jadi kemungkinan pekan depan. Yang pasti kami sangat concern dengan masalah pendidikan,” kunci Sondakh.

Sebelumnya, Kemenristekdikti meminta seluruh rektor perguruan tinggi negeri (PTN) untuk memperhatikan kemampuan ekonomi calon mahasiswa yang melalui jalur mandiri dalam menetapkan uang pangkal.

Bagi yang tidak mampu tidak dikenakan uang pangkal atau pungutan lain selain uang kuliah tunggal (UKT). Seleksi tetap harus berdasarkan prestasi dan pendekatan lokalitas.

Kuota jalur mandiri adalah maksimal 30 persen dari daya tampung. ”Dari kuota tersebut jika mahasiswa yang diterima dari golongan kaya, kalau bayar lebih ya silahkan. Tapi jika mahasiswa itu dari kalangan tidak mampu rektornya wajib memberikan solusi,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir kepada Jawa Pos (grup Manado Post).

Jalan keluarnya, lanjut Nasir, bisa diajukan ke bidik misi atau membayar UKT di level I sebesar Rp 500 ribu dan 1 juta untuk level II per semester.

Apakah yang pasti diterima adalah calon mahasiswa yang menyumbang besar? Belum tentu. Karena proses seleksi juga berdasarkan nilai prestasi akademik dan lokalitas daerah masing-masing. Nasir tidak memungkiri banyak pendaftar dari ibu kota menyasar kampus-kampus negeri di daerah. Bahkan, hingga luar pulau.

Jika tidak dikontrol, malah akan mematikan potensi siswa daerah lantaran kalah bersaing. Artinya, pemerataan pendidikan malah tidak berjalan.

Bisa jadi muncul persepsi bahwa kampus negeri hanya milik siswa ibu kota dan berduit. ”Jadi calon mahasiswa mengisi uang pangkal mahal terus diterima tidak ada itu. Ada yang mengisi mahal tapi tidak diterima,” jelasnya.(gnr/gel)

Kirim Komentar