17 Jul 2019 09:09

Industrialisasi Cengkih-Pala Mendesak

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Keberadaan komoditas unggulan, utamanya yang berasal pertanian dan perkebunan. Diakui punya kontribusi mendorong laju pertumbuhan ekonomi (PE) di Sulut. Dari porsinya, sesuai dengan kontribusi di PDRB Sulut, lapangan usaha pertanian punya andil 21 persen.

Belum idealnya harga cengkih, pala dan kopra turut memberikan andil bagi melempemnya laju PE Sulut dua tahun terakhir. Dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat, tren PE Sulut selalu berada di atas rata-rata nasional. Namun, hal ini masih bisa dikatrol jika industrialisasi komoditas unggulan ini berjalan optimal.

Pasalnya, belum adanya pabrik atau perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik, farmasi dan lainnya. Yang mayoritas bahan bakunya, ketiga komoditas unggulan Nyiur Melambai. Memperparah kondisi petani yang otomatis, hanya mengandalkan pembelian dari gudang rokok.

“Kalau saja industrialisasi ini jalan betul, pastinya banyak yang melakukan pembelian komoditas ini. Nah, makin banyak permintaan, sejalan dengan hukum ekonomi pastinya harga jualnya pun ikut terkerek,” ungkap Arbonas, di sela Pelaksanaan Seminar Nasional bertajuk Mendorong Investasi Yang Mendukung Sektor Industri di Sulut, belum lama ini.

Lanjut dia, eksekutif harusnya memiliki sinergitas yang sama mulai dari pusat sampai ke daerah. Lewat objektivitas sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Misalnya, Sulut yang dominan tak hanya di sektor pertanian, perkebunan serta perikanan.

Sudah selayaknya, disediakan infrastruktur pendukung baik lewat masuknya investasi maupun penambahan kelengkapan alat pengolahan bahan mentah, menjadi bahan mentah lebih bagus lagi jika sudah berbentuk setengah jadi.

“Bayangkan jika massifnya ekspor kita yang mayoritas didominasi kelapa dan turunannya, bisa lebih diperpanjang jenis produknya menjadi 30 turunan misalnya. Harga jual masing-masing turunan, pasti kan beda-beda nantinya. Ini secara tidak langsung, selain memberikan insentif tambahan bagi petani, juga mendorong masuknya penerimaan daerah lewat devisa yang dihasilkan. Jika kesepahaman nasional ini belum optimal, maka secara tidak langsung perbaikan kesejahteraan petani kita bisa dipastikan lambat meningkatnya,” papar pria low profile ini.

12
Kirim Komentar