16 Jul 2019 09:23

Macet, Sampah dan Banjir Jadi PR di Hut Manado ke-396

MyPassion
GS Vicky Lumentut

MANADOPOSTONLINE.COM—Setelah berusia 396 tahun, Kota Manado masih memiliki tiga permasalahan yang belum teratasi. Yaitu kemacetan, sampah dan banjir. Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut mengatakan, warga sampai sekarang masih mengeluhkan perlambatan kendaraan karena kemacetan.

Karena pertambahan kendaraan tidak seimbang dengan pertambahan jalan. “Ini yang menyebabkan Manado terjadi perlambatan kendaraan atau kemacetan,” ujarnya, dalam sidang paripurna HUT ke-396 Kota Manado, di Serbaguna Kantor Wali Kota Manado, kemarin.

Menurut dia, disepanjang tahun 2016 sampai sekarang panjang jalan yang sudah terbangun 84,5 kilometer. Sampai sekarang belum mengalami pertambahan. “Untuk mengurangi kemacetan pemerintah telah membuat aturan Perda 4/2018 tentang penindakan parkir liar. Karena parkir liar bisa menjadi pemicu kemacetan di Kota Manado,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan adanya aturan ini akan memberikan efek jerah bagi pengendara, agar selalu mematuhi aturan lalu lintas, dengan tidak memarkir kendaraan sembarangan. Selain itu katanya, ada juga permasalah kemacetan menuju RSUP Kandou.

“Sehari ambulans ke RSUP tercatat sampai 50 kendaraan. Di anggaran perubahan kami sudah menata dana untuk pembangunan jalur ambulans, agar mobil yang lewat tidak terjebak macet,” ungkapnya.

Wali kota juga mengatakan, selain itu ada permasalahan sampah. Menurut dia, Manado mendapatkan predikat kota terkotor bukan kotanya, melainkan sistem yang ada di Tempat Pembuangan Akhir. “Karena sistem yang dianjurkan undang-undang di TPA harus sanitary landfill, tetapi yang terjadi yaitu open damping karena sampahnya sudah menggunung,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk mengatasi ini pihaknya menunggu pembangunan TPA Regional yang sementara di bangun provinsi di Minut. “Kami juga sementara membangun sistem persampahan berbasis kecamatan dengan membangun TPS 3R dan memasang mesin incinerator. Agar sampah sudah bisa dibakar di kecamatan,” ungkapnya.

Ada juga permasalahan banjir. Persoalan banjir di Kota Manado menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan. Karena hasil mapping pemerintah, drainase kian hari makin sempit. Masyarakat disebut menyerobot drainase. Diubah menjadi pekarangan, rumah, dapur, dan pagar. Hal ini mendapat perhatian.

Lumentut mengatakan, dukungan masyarakat dibutuhkan. Untuk menuntaskan PR pemerintah mengatasi banjir. Karena ada tempat-tempat tertentu menjadi kelebihan air. Seperti Perkamil dan tempat-tempat lain. “Tugas dari pemerintah kota yaitu pembenahan drainase kota, agar tidak ada lagi kejadian wilayah kelebihan air (banjir) karena hujan,” ujarnya.

Dia melanjutkan, alih fungsi drainase harus dicarikan solusi. “Risiko banjir akan membahayakan kota ini. Karena itu dibutuhkan dukungan masyarakat dan wakil rakyat untuk mengatasi ini,” ujarnya.

Lumentut meminta bantuan pemerintah provinsi membantu Manado di bagian hilir. Agar dapat mengkoordinasikan dengan pemerintah di bagian hulu supaya duduk satu meja membahas penanganan  banjir. “Ini butuh kerja sama,” ujarnya, seraya berharap tidak ada lagi banjir seperti yang terjadi tahun 2014.(ite/gnr)

Kirim Komentar