16 Jul 2019 09:39

Kostum Siswa-Siswi Berganti Model, Hari Pertama tak Peras Otak Murid

MyPassion
Suasana hari pertama masuk sekolah, Senin (15/7) kemarin. Uniknya pelajar SD dan SMP di Kabupaten Minahasa Tenggara, mulai tahun ajaran baru, pelajar laki-laki bakal mengenakan celana panjang. (Hesly Marentek/MP)

Tahun ajaran 2019/2020 resmi dimulai Senin (15/7) kemarin. Hari pertama sekolah menjadi pengalaman baru bagi siswa-siswi yang baru saja berganti jenjang.

LAPORAN: Wulandari Mamonto, Hesly Marentek

SISWA-siswi baru dikenalkan dengan program Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Pantauan Manado Post di sejumlah pusat pendidikan, hari pertama bersekolah otak para pelajar belum terlalu ‘diperas’. Perubahan juga terlihat dari cara berpakaian para pelajar.

Seperti di SMP Negeri 1 Manado. Kegiatan PLS pun diawali dengan upacara bendera. Para peserta dibagi menjadi 10 rombongan belajar. “Terjadwal mulai hari ini (kemarin) mereka menerima materi. Untuk siswa kelas 8 dan 9 belum melakukan pembelajaran. Mereka hanya melihat kelas baru dan membersihkannya. KBM untuk kelas 8 dan 9 akan dimulai hari Selasa (hari ini),” sebut Kepsek SMP Negeri 1 Manado Adel Kemur SPd ketika diwawancarai, Senin (15/7) kemarin.

Sekretaris panitia pelaksana PLS Mervin Lolowang MPd menambahkan, panpel berkolaborasi dengan OSIS. Kegiatan PLS bertujuan agar siswa baru bisa mengenal lingkungan sekolah. Mengenal lingkungan baru baik secara fisik, sosial maupun cara belajar di lingkungan baru. “Siswa baru 320. Dari rekrutan sistem zonasi 256 atau 80%, prestasi 48 atau 15%. Lalu yang mengikuti orangtua pindah ada 16 atau 5%,” ungkapnya. “PLS bakal digelar selama tiga hari,” tandasnya.

Pantauan di tempat lain, SMA Katolik Frater Don Bosco Manado juga berlangsung kegiatan PLS pada hari pertama masuk sekolah. Menurut ketua Panitia Frater Agustinus Nai Aki, proses yang dilalui para calon peserta didik tidak mudah. Ada beberapa tahapan yang dilalui. Mulai dari tes, wawancara, dan rangkaian prosedur lain. “

Kami sudah bekerja mulai dari penerimaan sampai sekarang. Beberapa tahapan yang mereka lalui. Seleksipun dilakukan sebanyak 4 gelombang. Tahapan yang kami lakukan, pertama mengadakan tes, kedua wawancara bersama pihak sekolah, ketiga tes kemampuan dasar," ungkapnya. Jumlah siswa yang ikut PLS ada 140 peserta.

Di daerah lain, memasuki tahun ajaran baru seperti di Kabupaten Minahasa Tenggara, sedikit ada perubahan dalam berpakaian. Para siswa laki-laki, baik SD dan SMP diwajibkan menggunakan celana panjang. Sementara untuk perempuan wajib menggunakan rok dengan ukuran 5 cm di bawah lutut.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Mitra Aske Benu, terhitung sejak 15 Juli cara berpakaian siswa yang baru mulai diberlakukan. 96 SD dan 41 SMP.  “Ini berlaku semua, baik SD dan SMP," ujarnya.

Dasar pemberlakuan cara berpakaian siswa di Kabupaten Mitra, menurut Aske, mengacu pada surat edaran bupati nomor 129/2019 terkait penggunaan seragam sekolah SD dan SMP. "Penetapannya tertanggal pada 3 Juli 2019. Tapi penerapan mulai dilakukan semenjak masuk tahun ajaran baru, yaitu hari ini (kemarin, red)," jelasnya kemarin.

Adapun tujuan lain penggunaan celana panjang bagi siswa laki-laki serta rok dibawa lutut bagi perempuan, guna mengantisipasi terjadinya kejahatan seksual terhadap anak. "Nah ini juga sebagai langkah yang diambil pemerintah. Supaya bisa meminimalisir dengan mencegah terjadinya kekerasan seksual kepada anak,” terang Aske.

Sementara itu terpantau, Senin (15/7) siang, penerapan ini mulai diberlakukan di seluruh SD dan SMP yang ada. Sementara itu, Bupati Mitra James Sumendap mengatakan, penerapan cara berpakaian siswa merupakan yang pertama di Indonesia. “Penerapan pertama di Indonesia sejak zaman penjajahan hingga melalui tiga orde,” tulisnya melalui pesan singkat via WhatsApp.(cw-01/gnr)

Kirim Komentar