16 Jul 2019 08:38

Akademisi Sebut Turunnya Harga Komoditi Perkebunan Pengaruhi Angka Kemiskinan

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM--Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka orang miskin di Sulawesi Utara (Sulut). Dibanding September 2018, terjadi kenaikan 0,07 persen. Bahkan kenaikan persentase penduduk miskin di Sulut masuk dalam enam besar secara nasional.

Peningkatan penduduk miskin Maret 2019 dibandingkan September 2018 disebabkan meningkatnya jumlah penduduk miskin di perkotaan.

Maret 2019 penduduk miskin di perkotaan 65,49 ribu jiwa. Atau sekitar 5,01 persen dari total penduduk perkotaan. Sedangkan September jumlah penduduk miskin perkotaan 62,11 ribu jiwa atau 4,82 persen.

(Baca: Aduh!! Rilis BPS, Penduduk Miskin di Sulut Bertambah)

Ekonom Sulut Robert Winerungan mengatakan, dari data yang dikeluarkan BPS tersebut menunjukkan gap (jarak) antar yang kaya dan miskin di perkotaan meningkat. Hal ini karena banyaknya masyarakat desa hijrah kerja ke kota namun dengan pendidikan, skill dan keahlian minim.

Ciri khas perkotaan, dimana distribusi pendapatan yang makin tidak merata. "Ada banyak faktor yang terjadi di perkotaan, jumlah masyarakat miskin makin meningkat karena banyak penduduk pedesaan yang datang di kota. Tak memiliki kompetensi, pendidikan dan keterampilannya minim juga. Alih-alih menambah derajat lewat cita-cita penghasilan mumpuni, adanya hanya menambah jumlah masyarakat miskin,” ungkapnya.

Menurut dia, harusnya data statistik ini menjadi barometer pekerjaan pemerintah dalam menuntaskan kemiskinan. "Harus digiatkan lapangan pekerjaan di desa, jangan cuma di kota, dengan adanya anggaran desa harusnya perekonomian di sana makin maju. Supaya apa? Makin sedikit dan selektif, mereka yang nantinya ke kota. Ataupun, mereka yang ke kota itu, sudah siap tempur. Menanggapi segala kemungkinan yang ada,” sebutnya.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unima ini menambahkan, hal ini juga diakibatkan turunnya harga komoditi perkebunan Sulut yang selama ini menjadi unggulan dan andalan petani di Sulut.

"Kalau komoditi perkebunan Sulut bagus harganya, pasti pekerja di pedesaan akan meningkat dan tak ada lagi penumpukan penduduk miskin di perkotaan, karena mereka akan berpikir untuk apa ke kota kalau di desa bisa hidup sejahtera dengan komoditas yang ada," imbuhnya.

"Sekalipun di desa, pendidikan vokasi juga penting dan wajib. Jangan cuma ada di kota. Pendidikan yang merata  sangat perlu. Sumber daya manusia di desa perlu ditingkatkan. Mereka perlu sehat dan berpendidikan. Dengan demikian angka kemiskinan di desa dan perkotaan bisa ditekan," pungkasnya.

Lain halnya dengan, pengamat ekonomi Joy Tulung menilai dengan data ini menunjukkan program-program dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari ODSK berhasil diimplementasikan dengan baik di tingkat pedesaan. Meski begitu, kondisi di perkotaan seharusnya bisa berjalan dengan baik. "Di pedesaan memang terbantu dengan Dana Desa yang membuat kinerjanya lebih baik dari perkotaan," ucapnya.

Selain itu, menurut dia angka kemiskinan di perkotaan meningkat juga diakibatkan karena lebih banyak menyumbang angka pengangguran dibandingkan pedesaan. "Mengapa kemiskinan di desa rendah? Mungkin karena desa lebih banyak mendapat bansos dan juga karena adanya Dandes tadi, sehingga ketimpangan itu berhasil ditekan," terang Akademisi FEB Unsrat ini.(tr-02/jul)

Kirim Komentar