12 Jul 2019 11:17

TKB Jadi `Markas` Pecandu Eha-Bond

MyPassion
Dua remaja sedang asik menghirup lem Eha-Bond di Taman Kesatuan Bangsa (TKB), Kelurahan Bitung Tengah, Kecamatan Maesa, kemarin. (Swingly Repi/MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Taman Kesatuan Bangsa (TKB) di Kelurahan Bitung Tengah, Kecamatan Maesa, perlu ditata sekaligus diawasi lebih ketat. Pasalnya, TKB yang terletak di pusat kota ini sering menjadi ‘markas’ anak muda untuk hal-hal negatif.

 

Salah satunya untuk menghirup lem Eha-Bond. Seperti yang terpantau koran ini, sekira pukul 13.30, Kamis (11/7) kemarin. Terpantau ada dua remaja sedang menghirup lem berbahya tersebut di TKB, tepatnya di belakang salah satu pohon besar.

Kapolsek Maesa Robert Ulenaung ketika dimintai tanggapan mengatakan, memang sudah pernah ada laporan masyarakat tentang anak-anak yang menghirup Eha-Bond di lokasi tersebut.

"Tapi setelah kami pergi ke TKB, anak-anak sudah tidak ada. Sehingga, kami tidak tahu mereka asal mana," ujar Robert.

Jika kedapatan, lanjut Robert, tindakan dari Polsek Maesa pun hanya sebatas memberi pembinaan. "Kami hanya mengamankan mereka, memberikan pembinaan dan setelah itu pulang. Karena belum ada aturan yang mengatur bahwa menggunakan lem Eha-Bond melanggar aturan. Tetapi, itu hanya penyalahgunaan, berbeda dengan narkoba," jelasnya.

Robert pun meminta orangtua harus meningkatkan perannya dalam mengawasi anak. Termasuk pemilik toko untuk membatasi penjualan lem Eha-Bond kepada anak.

"Orangtua harus juga ada pengawasan kepada anak-anak mereka. Dan juga untuk para pemilik toko agar dapat melihat kalau anak membeli lem Eha-Bond harus dicurigai,” katanya.

Dia juga meminta ada peran dari tokoh agama dan tokoh masyarakat serta pemerintah terkait persoalan ini. “Jangan hanya berharap dari pihak kepolisian saja," kata Robert.

Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Bitung dr Tommy J Sumampouw mengatakan, menghirup lem Eha-Bond dapat merusak tubuh pemakai.

"Lem Eha-Bond mengandung methyl benzena/toluena yang merupakan zat adiktif. Sehingga dapat merusak otak, jantung, paru-paru, ginjal dan hati. Bukan saja itu, melainkan bisa berpengaruh pada aktivitas dan emosi. Misalnya, menjadi pemalas, emosi terganggu, pemarah tanpa sebab, suka memukul dan lain-lain," ujarnya.

Menurutnya, penyalahgunaan lem Eha-Bond di Bitung secara kuantitas menurun, tetapi secara kualitas meningkat.

"Dalam arti, orang yang menggunakan agak berkurang, tapi dosis dan campurannya meningkat. Misalnya ada yang pake tiga hingga lima kaleng perhari. Dan bahkan ada yang mencampur ke captikus maupun minuman keras lainnya untuk diminum," tuturnya.

Bagi penyalahgunaan lem Eha-Bond dia menganjurkan untuk direhabilitasi. "Agar mereka tidak pake lagi. Dan juga bersama seluruh komponen masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah bersama-sama melalui peran dan fungsi masing-masing untuk mencegah hal ini. Sehingga tidak ada penyalahgunaan menggunakan lem Eha-Bond," tutupnya. (ctr-61/can)

Kirim Komentar