12 Jul 2019 09:39

Dorong Bunaken Jadi World Heritage

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Taman Nasional (TN) Bunaken didorong menjadi warisan dunia yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO.

 

Usaha tersebut sepertinya bakal didukung langsung Presiden Joko Widodo. Dalam kunjungan dua hari di Sulut awal bulan ini, Jokowi ditemani ibu negara Iriana Joko Widodo, terpukau menyaksikan indahnya terumbu karang di Taman Laut Bunaken. Jokowi juga memboyong para menterinya untuk menyaksikan langsung TN Bunaken.

Kelak pengakuan TN Bunaken dari UNESCO, dinilai bakal mengangkat pariwisata Sulawesi Utara. Bunaken pun bakal lebih mudah ‘dijual’ ke turis mancanegara dan dalam negeri. Tetapi untuk menjadi situs warisan dunia.

Pengelolaannya harus diseriusi pemerintah daerah dan pihak terkait dalam hal ini Balai Taman Nasional Bunaken. Saat ini karang-karang yang ada di wilayah TN mulai ada yang rusak. Kemudian wilayah perairannya banyak dicemari sampah.

Diketahui sudah ada rencana pengelolaan jangka panjang TN Bunaken Periode 1996-2021. Sebagai Kawasan Pelestarian Alam, penunjukan Taman Nasional Bunaken berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 730/Kpts-II/1991 tanggal 15 Oktober 1991 dengan luas 89.065 Ha, awalnya berada dalam administrasi Pemerintahan Daerah Tingkat II Kabupaten Minahasa Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Utara.

Tetapi karena otonomi daerah, sekarang secara administrasi pemerintahan, wilayah TN Bunaken termasuk dalam wilayah Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

Diungkapkan Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Taman Nasional Bunaken Eko Wahyu Handoyo, perjuangan mereka untuk mendapat pengakuan UNESCO tidak gampang dan perlu kerja sama semua pihak.

Menurutnya, yang sekarang sementara pihaknya perjuangkan yaitu agar TNB masuk cagar biosfer (Suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, ekosistem unik, dan atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan).

“Kita perjuangkan itu (cagar biosfer) sampai ke Paris, Prancis,” bebernya saat diwawancarai Manado Post, Kamis (11/7) di kantornya di Bailang Raya, Molas, Kecamatan Bunaken, Manado.

Menurut dia diperkirakan cagar biosfer di dunia sekira 200-an. Sementara 16 diantaranya berada di Indonesia. “Tahun ini baru ada dua yang ditetapkan oleh UNESCO dan PBB,” jelasnya lagi. 

Menurutnya, perjuangan TN Bunaken untuk menjadi cagar biosfer bukan hanya untuk Bunaken saja. Tetapi juga bagi lokasi pariwisata lainnya di Sulut pada umumnya.

“Perlu juga ada kerja sama dengan perguruan tinggi untuk bidang itu, itu sudah kami lakukan kerja sama dengan Unsrat. Mereka siap untuk itu, ada 7 fakultas yang bakal bekerja sama, kami sudah didorong LIPI untuk itu karena itu kewenangan mereka,” papar Eko Wahyu.

Dia berharap tahun depan TNB bisa menjadi cagar biosfer ke-17 di Indonesia. “Brandingnya Taman Nasional, ke depan saya yakin apabila jadi, maka bisa memberi multiplier efek yang cukup luas ke masyarakat Sulut. Bukan hanya Bunaken tapi juga Tangkoko dan daerah Minahasa Raya, saya optimis untuk itu,” imbuhnya.

“Semua step sudah kami lakukan, brandingnya TNB, sudah didukung perguruan tinggi, sudah kami sounding ke semua dan beragam upaya lainnya sudah kami lakukan untuk itu,” ujar Eko Wahyu.

Namun perjuangan mereka juga bukan tanpa masalah. Ancaman terhadap rusaknya terumbu karang di TN Bunaken masih terus ada. Ia mengakui ada beberapa lokasi yang rusak, tapi ada beberapa lokasi pula yang masih bagus.

“Transplantasi sudah kami lakukan dari 2010. Setiap tahun kami perbaiki. Ini tidak bisa kami lakukan secara sporadis. Kami lakukan bertahap,” ungkapnya sembari menyebutkan transplantasi tidak bisa dilakukan secara fisik. “Sebab kalau transplantasi dilakukan secara sporadis, takutnya malah bisa merusak terumbu karang tersebut,” ucapnya.

123
Kirim Komentar