12 Jul 2019 10:02

Bunaken Penopang Utama Pariwisata Sulut

MyPassion

KEINDAHAN Bunaken dikatakan Pemerhati Pariwisata Sulut Merry Karouwan masih jadi magnet bagi wisatawan asing. Meski dari sisi pengelolaannya, banyak tangan yang memoles Bunaken. Mulai dari instansi vertikal, Pemerintah Kota Manado hingga pemerintah provinsi.

 

Dirinya tak menafikan jika UNESCO bakal mendaulat Bunaken sebagai warisan dunia. Keindahan natural pemandangan bawah lautnya jadi yang terbaik di Indonesia.

“Sampai sekarang saja mindset kebanyakan orang, kalau  tidak ke Bunaken berarti sama tidak menginjakkan kaki ke Sulut. Hukumnya wajib kalau ke Manado, harus ke Bunaken,” ungkap dia.

Dirinya pun menyarankan jika pengelolaan Bunaken nantinya diharapkan,  bisa diserahkan sepenuhnya ke Pemerintah Sulut.  Bukannya tidak mempercayai serta mengakui pengelolaan kolektif saat ini. Namun, Ketua ASITA Sulut ini meyakini jika pengelolaan Bunaken diserahkan sepenuhnya ke daerah. Dapat meningkatkan kualitas hidup, pengembangan usaha dan pendapatan warga Bunaken.  

“Karena kalau tidak salah Bunaken ini di bagi dalam 3 zona. Dan masing-masing nya dikelola oleh instansi yang berbeda-beda,” ujar dia. Dirinya mengapresiasi upaya pemerintah yang makin menempatkan tourism sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Meski secara keseluruhan, tingkat partisipasi pihaknya tak terlalu dilibatkan dalam proyek kunjungan yang dimulai sejak tahun 2016 silam. “Kontribusi Tiongkok sangat baik, berhasil meningkatkan jumlah turis yang berkunjung ke sulut. Ini tidak mudah, tak gampang meyakinkan turis datang berwisata ke suatu tempat. Karena mereka harus mengeluarkan uang, tiket pesawat, hotel, makan dan lain-lain. Tentu turis yang datang berharap mendapat kenyamanan, kesenangan seperti hal nya orang-orang liburan pada umumnya. Bisa lebih optimal lagi, jika ditopang dengan ketersediaan sarana dan fasilitas yang memadai,” papar dia.

Sementara itu, Pengamat Pariwisata Prof Bet El Lagarense justru menitikberatkan pentingnya keramahtamahan lokal dan spirit berani untuk melayani. Pasalnya, bukan tanpa alasan, watak dan pembawaan orang timur biasanya memiliki struktur bahasa yang kurang lembut.

“Memperbaiki yang di luar penting. Tapi ingat, peningkatan kualitas SDM juga tak kalah penting. Punya kemampuan dan kapasitas untuk memberikan pelayanan prima bagi wisatawan. Tak peduli akan bahasa nantinya, setidaknya dari gestur dan wajah kita harus memiliki hospitality.

Karena kesan pertama ini penting bagi wisman. Mereka pastinya tergerak, dan cenderung balik lagi jika keramahtamahan ini betul kita dorong. Setelahnya, baru peningkatanan sarana dan infrastruktur pendukung,” ulas Guru Besar Pariwisata salah satu universitas di Kota Manado ini.(jul/gnr)

Kirim Komentar