10 Jul 2019 10:02

Ancaman Kamtibmas di Sulut Menurun

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Ancaman gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Sulawesi Utara, perlahan menurun. Meski masih ada beragam ancaman, tapi selang dua tahun terakhir (2017-2018), angka kriminalitas mulai berkurang.

 

Di bawah pimpinan Kapolda Sulut Irjen Pol Sigid Tri Hardjanto dan Wakapolda Brigjen Pol Karyoto. Polda terus berbenah. Menurut catatan Polda Sulut, jika dibandingkan dengan tahun 2017, tahun lalu terjadi penurunan tindak pidana menonjol di wilayah hukum Polda.

Pada 2018 (Januari-November) jumlah keseluruhan tindak pidana menonjol yang terjadi berjumlah 8.561 kasus. Yang telah diselesaikan sebanyak 5.924 kasus. Sementara tahun 2017 jumlah keseluruhan tindak pidana menonjol ada 9.680 kasus, yang diselesaikan waktu itu 7.319 kasus.

Khusus kejahatan narkoba yang diungkap pada tahun 2018 mengalami kenaikan. Dengan jumlah 236 kasus atau 11,32% perkara. Sedangkan tahun sebelumnya hanya berjumlah 212 perkara. Dengan total tersangka yang ditangkap pada tahun 2018 berjumlah 246 orang. “Barang bukti yang diamankan yaitu narkotika jenis ganja 990,73 gram, sabu 1.058,07 gram, tembakau gorilla 13,69 gram, psikotoprika jenis alprazolam 375 butir, obat keras 30.706 butir, bahan berbahaya cap tikus 14.390 liter, minol berbagai merk 2.767 botol, kosmetik 142 dos merk, miras oplosan 43 botol, mie mengandung borax 42 kg, kokain 1.014, 82 kg, LSD 3 blot dan PCC 6.311 butir,” ungkap Kapolda Sulut Irjen Pol Sigid Tri Hardjanto melalui Kabid Humas Kombes Pol Ibrahim Tompo kemarin.

Kasus lainnya pada tahun 2017, Polda telah menyelesaikan kejahatan terhadap kekayaan negara sebanyak 20 kasus, selesai 10 kasus atau 50 %. Dan tahun 2018 berjumlah 22 kasus, yang tuntas 16 kasus atau 63,63 %. Sedangkan yang dinyatakan SP3 nihil. Sedangkan jumlah uang negara yang berhasil diselamatkan pada tahun 2018 sebesar Rp.797.922.432,06.

Khusus tindak pidana Industri Perdagangan dan investasi (indagsi), tahun 2017 berjumlah 7 kasus, selesai 3 kasus atau 42,85 %. Sedangkan tahun 2018 berjumlah 8 kasus masih dalam proses penyidikan. Selanjutnya ada Cyber crime/perbankan. Pada tahun 2017 berjumlah 72 kasus, selesai 29 kasus (40,27%). Tahun 2018 berjumlah 102 kasus, selesai 12 kasus (11,76%).

“Untuk tindak pidana lingkungan hidup, pertambangan, kehutanan dan konservasi SDA tahun 2017 berjumlah 9 kasus, selesai 2 kasus dan tahun 2018 berjumlah 5 kasus, selesai 2 kasus. Sedangkan kejahatan transnasional tahun 2017 berjumlah 1 kasus selesai 1 kasus, dan tahun 2018 berjumlah 3 kasus, selesai 2 kasus,” tandas Tompo.

Terkait penuntasan kasus sepanjang 2018, pengamat hukum Toar Palilingan MH menyebutkan, kepolisian sudah cukup optimal dalam penuntasan kasus kriminal umum dan narkoba. “Masyarakat sudah sangat nyaman dengan jaminan keamanan sekarang. Meski ada beberapa ancaman kejahatan, tapi kami melihat kepolisian sudah bekerja sangat baik,” ungkapnya.

Namun Palilingan menilai pengusutan kasus korupsi masih minim. “Masih jarang terdengar pengusutan terhadap koruptor. Mungkin karena untuk pembuktian kasus memang membutuhkan waktu lama ya. Karena penyidik tipikor harus didukung dengan bukti-bukti kuat,” sambung Palilingan, wakil Dekan III Fakultas Hukum Unsrat Manado.

Menurutnya, pengusutan korupsi memang ada aturan dalam pengusutan. “Misalnya itu (kasus) memang ada yang belum bisa diekspose. Tapi kadang ada penyidik yang sudah membocorkan informasi kepada masyarakat soal pengusutan suatu kasus. Tapi itu tidak mengapa karena pasti penyidik sudah punya bukti kuat,” sambungnya lagi.

Dia menambahkan, kasus doger anjing juga patut jadi perhatian serius kepolisian. “Karena kalau dulu anjing yang jaga tuannya. Namun sekarang saya melihat sudah terbalik, tuannya yang menjaga anjing peliharaan, akibat adanya ancaman pencurian anjing yang makin meresahkan,” kuncinya.(gnr)

Kirim Komentar