09 Jul 2019 08:39
PE- PDRB-Pendidikan- Kesehatan Teratasi

Topang Sulut Hebat, Petani Minta Harga Cengkih Rp100 Ribu

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Untuk menopang Sulut Hebat, petani cengkih terus mendesak pemerintah membantu naikkan harga cengkih di atas Rp100 ribu/Kg. Harga seperti itu, dijamin Pertumbuhan Ekonomi (PE), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Pendidikan, dan Kesehatan akan teratasi. 

‘’Harga 100 ribu per kilogram,  akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Sulut. Pendapatan setiap kepala keluarga juga akan meningkat. Otomatis kami petani akan dengan mudah menyekolahkan anak kami sampai ke pergurun tinggi. Jika sakit, kami juga punya duit pergi ke dokter. Tidak  hanya sekedar minum obat warung,’’ ujar Udi Tamuntuan, salah satu petani cengkih di Kecamatan Tombulu Kabupaten  Minahasa.

Lanjut Tamuntuan, ada sekira 600.000 jiwa masyarakat Sulut bergantung dari tanaman cengkih. Angka ini belum dikalkulasikan dengan jumlah pembeli dan pengepul cengkih skala kecil. Jadi sekira 30 persen warga Sulut menggantungkan harapannya di emas cokelat.

''Kami petani tak butuh janji manis calon kepala daerah semasa kampanye. Simpel, hanya melabel harga emas cokelat mininal Rp100.000 per kilogram, sudah bisa membuat 600 ribu penduduk Sulut hebat,'' jelasnya.

Dari data Disperindag Sulut, selang lima tahun terakhir, total produksi cengkih Sulut mengalir ke pasaran berjumlah 10 juta ton. Nah, jika dikalkulasikan dengan harga Rp100.000/Kg. Artinya, ada kurang lebih Rp1 triliun duit yang mengalir langsung ke petani.

Petani apresiasi perjuangan pemerintah memajukan sektor pariwisata, sebagai solusi tingkatkan perekonomian daerah. Tahun 2018 dengan jumlah wisatawan Tiongkok 127.000 orang.

Jika satu wisatawan belanja Rp5 juta, maka uang yang masuk ke Sulut sekira Rp635 miliar. Belum bisa mengalahkan pendapatan masyarakat Sulut dari hasil panen cengkih yang mencapai Rp1 triliun.

Sektor pariwisata belum cukup menambah pasokan logistik di dapur petani. Lebih-lebih, jika menilik realisasi Nilai Tukar Petani (NTP) yang nyaris dalam satu dasawarsa, selalu berada di bawah titik ideal. Petani masih dibebani dengan tingginya, nilai tukar jasa dan konsumsi, ketimbang apresiasi layak dari hasil garapan selama semusim masa produksi.

“Kami tidak butuh infrastruktur hebat, percuma saja itu. Hanya dinikmati mereka yang punya usaha besar, mobil belasan, usaha menggurita kiri-kanan. Sementara petani, yang notebenenya turut memberikan sumbangsih lewat pajak rokok. Triliunan rupiah mengalir ke kas negara, tapi petani dapat apa? Tak lebih dari sekedar ucapan terima kasih, masih ditambah juga dengan kata ‘sabar’,” kata Wakil Ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia Perwakilan Sulut Paulus Sembel.

123
Kirim Komentar