04 Jul 2019 09:14
Petani Cengkih Tuntut “Merdeka”

Surat Terbuka untuk Pak Jokowi

MyPassion
Oleh: Marlon Sumaraw sumarawmarlon@gmail.com

SELAMAT datang di bumi nyiur (tak) melambai Pak Jokowi. Tabea.

Sebelumnya, mohon maaf kelancangan dua jempol-ku mengetik surat terbuka ini untuk Pak Jokowi.

Pertama, semoga Pak Jokowi sehat selalu dan dalam lindunganNya mengemban tugas negara. Kedua, info Pilpres 17 April lalu, Pak Jokowi menang mutlak 77% lho di Sulut. Dibanding Pilpres 5 tahun lalu, persentase kenaikannya dua digit. Hampir 30 persen. Dari 53% ke 77%. Wouuuuw.

Tapi Pak Jokowi.... ????????????

Kasihan benar petani cengkih Sulut. Deritaaaaa berkepanjangan. Seakan tiada akhir. Lebih ironi, (tapi kami maklum) energi pemerintah lebih banyak terkuras, urus urusan politik yang sangat mengganggu ekonomi. Padahal puluhan ribu petani cengkih sedang dalam pergumulan hebat.

Sekadar referensi Pak Jokowi akan derita petani cengkih. Tatkala berjaya 1970-an sampai 1980-an, (hingga komoditi andalan petani Sulut itu dijuluki emas cokelat), Pemerintah RI (rezim orde baru) jadi iri, susah, marah, bahkan boleh dibilang dendam kesumat.

Kenyataan membuktikan. Pemerintah tidak senang alias susah melihat petani cengkih hidup senang. Edan. Sebaliknya, pemerintah justru senang sekali dan bergembira ria melihat petani cengkih jatuh susah dan menderita.

Berlebihankah alinea di atas? 1000 persen tidak Pak Jokowi. Saya beber fakta dan ini bukan hoax. Saya anti hoax.

Ini “success story” Pemerintah RI. Saat petani berjaya, pemerintah membuat Badan Penyanggah Petani Cengkih (BPPC). Padahal praktik sejatinya: PENJAJAH, bukan PENYANGGAH. Sebab orang tak punya cengkih jadi kaya raya. Petani cengkih hancur lebur.

Sejarah mencatat. Sejak zaman BPPC, petani cengkih terus terjajah dan hingga kini belum dimerdekakan.

Penjajahan Pemerintah RI atas rakyatnya sendiri sungguh berhasil. Pemerintah boleh dibilang sangat sukses memiskinkan petani. Dan tak peduli alias masih gatal (gagal total) mengembalikan kejayaan petani cengkih.

Dampaknya nyata tersaji. Lihat. Tertutup pintu rapat petani cengkih bisa membawa anak-anaknya mengecap pendidikan di sekolah atau kampus unggulan. Ratusan ribu anak dan cucu-cece petani cengkih telah berhasil dicegat pemerintah untuk masuk perguruan tinggi ternama. Penerus-penerus Sam Ratulangi yang berfalsafah Si Tou Timou Tumou Tou (Manusia hidup memanusiakan manusia lain) itu sukses dihadang. Pemerintah lewat BPPC telah gilang gemilang menyulap petani cengkih menjadi petani penggarap.

12
Kirim Komentar