29 Jun 2019 08:58
Tabungan Emas Coklat Memudar

Cengkih `Mencekik`, Petani Teriak ke Pemerintah

MyPassion

Laporan: Asyer Rokot, Vanly Regoh

DAHULU cengkih dikenal sebagai tabungan masa depan petani di Sulawesi Utara (Sulut). Pada tahun 1980 hingga 1990-an harga cokelat emas (sebutan lain cengkih, red) tersebut, berada pada angka tertinggi yang bisa menjadi ‘penyejuk’ bagi kantong petani dan keluarganya.

Zaman itu, petani cengkih bisa dengan mudah sekolahkan  anak mereka sampai ke perguruan tinggi. Tidak ada yang putus sekolah. Apalagi tidak sekolah. Karena masyarakat Sulut yang mayoritas petani cengkih, punya daya beli.  Membuat usia lama sekolah penduduk Sulawesi Utara sangat baik.

Hal itu bisa terlihat dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 80-an, Indeks Pembangunan Manusia  (IPM) Sulut bersaing dan saling bergantian dengan Provinsi DKI  Jakarta di peringkat pertama dan kedua.

Bahkan petani bisa membangun rumah permanen. Rumah megah petani cengkih itu, saat ini masih terlihat sisa-sisa masa kejayaannya. Seperti di daerah Kecamatan Sonder, Kecamatan Lembean Timur, Kecamatan Kombi, dan daerah daerah sentra cengkih lainnya di Kabupaten Minahasa.

Tak hanya itu, masyarakat juga dengan mudah beli kendaraan beroda dua dan beroda empat. Mobil-mobil jeep yang dibeli 40 tahun silam itu, masih terlihat sisa-sisa rongsokannya di garasi rumah-rumah petani cengkih di Minahasa.

Bahkan petani dari kampung, beli TV dan lemari es di Kota Manado. Kendati desa mereka belum dialiri listrik. Tahun 1986, tak sedikit petani Tondano Pante yang pergi menonton Piala Dunia di Mexico. Pendapatan Perkapita masyarakat sangat tinggi.

Bukan tanpa alasan, kondisi dulu harga cengkih berada di kisaran Rp15 ribu/kg, harga premium Rp350/liter, harga beras Rp75/liter. Membuat 1 Kg cengkih, bisa membeli 200 Kg beras. Bila membandingkan kondisi sekarang; harga cengkih Rp70 ribu/Kg, harga premium Rp6.500, harga beras Rp10 ribu, 1 Kg cengkih hanya bisa dapat 7 Kg beras.

Melihat perbandingan itu, seharusnya harga cengkih kering sekarang sudah berharga Rp2 juta/Kg. Anjloknya harga komoditi perkebunan unggulan di Sulut, dirasa mencekik petani. Harga jual sekarang bagi petani dinilai tak bisa menyejahterakan lagi.

Johnny Bolung (61), petani cengkih asal Desa Ranowangko II, Kabupaten Minahasa misalnya. Dia mengatakan, petani saat ini sudah tak makmur lagi.

123
Kirim Komentar