26 Jun 2019 09:12

ASTAGA!! Peti Bolmong Kembali Tewaskan Warga

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COMPertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), kembali memakan satu korban jiwa, Selasa (25/6) pukul 15.00 WITA.

 

Kali ini korban bernama Aldo Mokodompit (26), warga Desa Bakan, Dusun I, RT 2, Kecamatan Lolayan. Menurut saksi A Podomi, lokasi tambang tersebut merupakan milik SP alias Tole. Ia mengaku bersama rekannya Santo alias SM, bersama korban Aldo hendak mengambil material emas.

“Posisi material yang hendak diambil sangat curam, sehingga dia (korban) kesulitan mengambil bebatuan tersebut dan terperosok sejauh 15 meter disusul longsoran bebatuan dan menimpa korban,” ungkap AR.

Ia mengungkapkan setelah dilakukan penggalian untuk mengevakuasi korban, namun nyawa korban tidak bisa terselamatkan. “Setelah berhasil dievakuasi korban tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Sementara itu, kejadian ini tidak dilaporkan langsung ke BPBD maupun Basarnas. Pasalnya korban langsung ditemukan oleh warga sesama penambang. Informasi yang didapat, almarhum Aldo akan dimakamkan malam ini (kemarin) di Desa Bakan.

Asisten II Perekonomian Pembangunan dan Kesra Bolmong Ir Yudha Rantung saat mengetahui hal tersebut langsung berang. Menurutnya, padahal baru keluar surat penegasan dari bupati dilarang keras bagi masyarakat untuk masuk PETI Busa Bakan.

“Surat yang dikeluarkan itu sudah keras sekali. Kalau tidak diserahkan, maka langsung ke pihak yang berwajib untuk melakukan tindakan lebih,” sebut Rantung saat dikonfirmasi kemarin malam.

Dari pemda sendiri katanya, pihaknya tidak punya kewenangan untuk bertindak. Karena di satu sisi, kewenangan bukan di kabupaten tapi kewenangannya berada di provinsi.

“Jadi kami hanya sebatas penegakan di lapangan sesuai kompetensi, karena berhubungan langsung dengan camat, kepala desa  dan masyarakat. Karena kan ini masyarakat kita, jadi hanya menegaskan seperti itu,” dalihnya. “Tapi tindak lanjutnya kan, kewenangannya bukan di kabupaten tapi di provinsi. Secara administratif menekankan seperti itu,” sebut Rantung.

Makanya telah dikeluarkan hasil keputusan pemda bersama forkopimda beberapa waktu lalu. Dalam surat tersebut katanya, sudah keras sekali diperingatkan. Jika pemda hanya memberikan waktu satu minggu atau 7 hari kepada masyarakat untuk mengosongkan tempat tersebut.

“Apabila tidak dikosongkan, maka akan diserahkan penuh kepada pemprov dan kepolisian untuk melakukan tindakan tegas. Jadi kalau kewenangan kami seperti itu, tidak ada lebih lagi,” tandasnya.

Menurutnya, masyarakat yang masih ingin bekerja di PETI Busa Bakan tersebut memang sudah kebal. Sudah berkali-kali diperingatkan. Bahkan mereka sendiri melihat begitu banyak korban yang tertimbun.

“Tapi tinggal bagaimana cara, secara terkoordinasi tingkat provinsi sesuai kewenangannya melakukan tindakan itu. Untuk sekarang ini, peran gubernur seperti apa kira-kira berlakukan koordinasi dengan forkopimda tingkat provinsi, untuk melakukan itu (penghentian di PETI Busa Bakan),” tegasnya.

“Sekarang tinggal melihat bagaimana peran gubernur untuk sekarang. Karena kalau ada korban lagi seperti ini, maka pemda juga yang pusing. Memang kewajiban pemda, karena mereka adalah masyarakat kita. Tapi kan alangkah baiknya sebelum terjadi sudah diantisipasi lebih dulu,” bebernya, sembari menambahkan kalau bisa dimuat besar-besar korban tersebut, agar pemprov punya tindakan tegas terkait hal ini.

12
Kirim Komentar