24 Jun 2019 08:45

Berikut Solusi Usulan Petani Atasi Harga Cengkih

MyPassion

Meski hal tersebut, diprediksi tak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek. "Mungkin memang belum bisa sekarang, tapi harusnya ke depan itu sudah ada untuk menstabilkan dan mengatasi gejolak ini," tukasnya.

Selain itu akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unima ini membeber, harusnya koperasi dan badan usaha milik desa (Bumdes) bisa memfasilitasi hasil panen petani untuk diteruskan ke produsen.

"Meski kenyataannya mereka belum sanggup dan mampu. Karena terbentur dengan modal usaha yang kecil. Ciptakan pasar adalah tugas pemerintah, petani adalah masyarakat kita, kalau bukan eksekutif yang turun tangan, lantas siapa lagi?" pungkasnya.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia Arbonas Hutabarat lewat rilis Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional menyatakan, kesejahteraan petani di Sulut memang belum sesuai harapan.

Pasalnya, dari data yang dimiliki, NTP sebagai indikator pengukur taraf kesejahteraan, paling terbaik menyentuh angka maksimal di tahun 2015 silam. Itu pun, hanya di level 98 dari batas kesejahteraan 100 poin.

“Bahkan NTP Sulut sepanjang tahun lalu, mayoritas hanya bermain di level 94-96 poin. Lagi-lagi, pertumbuhan nilai atau indeks yang diterima petani masih di bawah nilai pengeluaran atau konsumsi. Yang didapatkan saat menjual hasil komoditasnya,” ungkap dia.

Ditambahkannya, jika menilik realisasi Triwulan IV tahun lalu, Sulut ibaratnya berada di zona degradasi. Hanya berada di posisi ketiga terbawah, dari seluruh provinsi di Pulau Sulawesi.

“Bahkan, dari sub sektornya sendiri, perkebunan yang di dalamnya masuk cengkih, kelapa dan kopra berada di angka paling rendah. Sub sektor peternakan berada di tingkat tertinggi,” ulasnya.

123
Kirim Komentar