22 Jun 2019 08:30

NTP Sulut Jongkok, Perkebunan Terendah

MyPassion
Ateng Hartono

MANADOPOSTONLINE.COM--Perbaikan kesejahteraan petani di Sulut, yang diukur lewat Nilai Tukar Petani (NTP), yang ditakar tiap bulannya lewat analisa Badan Pusat Statistik (BPS).

 

Lebih jauh soal pengertian kesejahteraan, Kepala BPS Sulut Ateng Hartono menyatakan, NTP jadi patokan sejauh mana daya beli petani, saat mendapatkan pendapatan dari hasil produksi selang masa tertentu.

Jika presentasi pengeluaran petani cenderung lebih tinggi dari pendapatan, pastinya kondisi NTP nya ikut terkoreksi. Dari data yang dikumpulkan Manado Post, diketahui sejak tahun 2013 silam. Indeks NTP Sulut pernah mencapai angka 100. Setelahnya, hingga kini, NTP Sulut selalu berada di rentang 97 ke bawah.

Bahkan yang terbaru, NTP Sulut di Bulan Mei lalu, menyentuh angka 93,85 persen. Artinya, dalam proses pemenuhan kebutuhan petani, masih lebih dominan dikeluarkan ke penyedia jasa lainnya. Ketimbang hasil komoditasnya dibanderol dengan harga yang mumpuni.

“NTP bukanlah patokan untuk mengukur kesejahteraan petani, tapi cenderung mengukur daya beli petani. Rumus NTP yaitu, indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Atau, It adalah harga jual hasil pertanian, sementara Ib adalah pengeluaran yang dibayarkan petani, semakin tinggi NTP berarti semakin baik daya beli nya. Begitu juga sebaliknya,” ungkap Hartono.

Dia melanjutkan melihat kondisi harga komoditi saat ini, dengan belum sesuainya harapan petani soal harga jual, komoditas unggulan semisal kopra dan cengkih. Turut menggerus kualitas petani, yang ada di Subsektor Perkebunan.

"Bahkan NTP Perkebunan relatif terendah, untuk April hanya 87,39 persen. Sebulan kemudian, terkoreksi lagi menjadi 86,35 persen. Sementara indeks konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan, lagi-lagi tidak diimbangi dengan kenaikan indeks harga yang diterima petani," jelasnya.

Memang, kata dia, indeks konsumsi rumah tangga pastinya sejalan dengan besaran inflasi. "Inflasi kemarin (Mei, red) tembus angka 2,60 persen, terbesar sepanjang bulan berjalan tahun ini. Pastinya ikut berdampak ke masyarakat, apalagi yang ada di pedesaan. Di situ utamanya dihuni pekerja di sektor pertanian kan," ujarnya lagi.

Masa panen raya perkebunan cengkeh, sambungnya, memang hingga kini belum diimbangi dengan perbaikan  nilai beli komoditas asli Nyiur Melambai tersebut.

"Justru yang dikhawatirkan di sini, saat panen nanti, pendapatan yang diterima itu. Hanya mampu mengembalikan modal yang digunakan selang proses pencapaian masa panen, profitnya kurang maksimal, kasihan nya petani yang ‘pure’ penghasilannya dari cengkih, dengan kondisi ini biaya perawatan tanaman perkebunan tropis, malahan bisa jauh lebih besar ketimbang biaya hidupnya," pungkasnya.

12
Kirim Komentar