21 Jun 2019 09:00

Susah Bedakan Pagi dan Malam, Pulau Ini Bakal Hapus Zona Waktu

MyPassion
Pulau Sommary di Norwegia yang siap hidup tanpa waktu.(dok)

MANADOPOSTONLINE.COM—Bisa bayangkan bermain sepak bola atau mengecat rumah pukul 02.00 pagi? Itu biasa dilakukan penduduk Sommaroy Island. Salah satu tempat di Norwegia. Kini mereka berencana menghapus waktu. Motto yang diberlakukan Sommary adalah ‘apa yang kami mau, kapan yang kami mau’.

Sangat wajar jika warga di Sommary mengambil langkah ini. Pasalnya Sommary mengalami waktu yang beda dengan tempat lain di dunia. Daerah di kawasan Artik itu, mengalami matahari yang tidak terbenam di musim panas dan kegelapan total di musim dingin.

Contohnya pada 18 Mei hingga 26 Juli nanti. Matahari tidak terbenam selama 60 hari. Membuat penduduk kesusahan membedakan pagi dan malam. "Di seluruh dunia, banyak orang yang dikarakterisasikan dengan stres dan depresi," ujar Kjell Ove Hveding, pemimpin kampanye Time-Free Zone. "Dalam banyak kasus ini bisa dihubungkan dengan perasaan terperangkap, dan di sini, jam merupakan sesuatu yang berperan (menimbulkan stres). Kami akan menjadi daerah yang bebas-waktu di mana semua orang bisa hidup bebas," lanjutnya.

Meski begitu, ini bukan berarti orang-orang di Sommaroy lantas tak perlu sekolah dan bekerja. "Anak-anak masih harus sekolah, tapi ada ruang untuk fleksibilitas. Mereka tidak perlu dimasukkan ke dalam kotak bernama jam sekolah atau jam kerja," lanjutnya. "Jika kau ingin memotong rumput pukul 4 pagi, maka lakukanlah."

Tak hanya itu, tanpa penghapusan konsep waktu pun, warga Sommaroy sebenarnya sudah biasa bermain bola, berenang, hingga mengecat rumah pukul 2 pagi.

Ide penghapusan konsep waktu ini sendiri hanyalah sesuatu yang mereka lakukan untuk membuatnya lebih formal dan diterima dunia.

 

Sejauh ini, kota-kota lain yang terletak di lingkar Arktik seperti Finnmark dan Nordland pun diketahui mendukung inisiatif warga Sommaray tersebut.

Lokasi Sommary memang sangat dekat dengan Kutub Utara. Pulau Sommaroy memiliki keunikan geografi yang membuatnya berbeda.

Di bulan November hingga Januari, pulau tersebut mengalami kondisi terbalik. Matahari sama sekali tak datang.

Sejumlah masyarakat pulau pun berinisiatif datang ke Balaikota. Mereka dan menandatangani petisi zona bebas waktu pada 13 Juni 2019 lalu.

Kesempatan itu mereka bertemu dengan anggota parlemen Norwegia dan memberikan tanda tangan warga untuk lebih lanjut mendiskusikan perihal izin legal dan praktik nyata ke depannya.

"Ada banyak warga, melakukan hal ini berarti mem-formalkan sesuatu yang telah kita prktikkan selama beberapa generasi," ujar Kjell.

Dengan dibuatnya aturan terkait zona bebas waktu itu, warga pun berharap terbebas dari jam kerja tradisional dan berharap akan fleksibilitas terkait jam masuk sekolah dan waktu kerja.

Apabila resmi disahkan, nantinya warga akan membuat akses masuk ke Pulau Sommaray yang ditandai dengan jembatan berisi jam. Menandakan bahwa traveler akan masuk ke pulau di mana tak ada waktu.(*/gel)

Kirim Komentar