21 Jun 2019 08:45
HARUSNYA 2 JUTA PER KG

STOP POLITIK URUS DULU CENGKIH!

MyPassion
Ilus.(dok Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM—Petani cengkih Sulut berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis. Menjamin harga jual emas cokelat agar tetap tinggi jadi tuntutan petani.

 

Bagaimana tidak selang beberapa tahun terakhir harga jual komoditas andalan masyarakat di Minahasa Raya dan Bolmong Raya itu terjun bebas. Petani pun diperhadapkan dengan kondisi mencemaskan. Pasalnya untuk membiayai satu hektare kebun cengkih saja, dalam lima tahunnya petani diprediksi wajib memiliki dana sebesar Rp.67.500.00.

Bila membandingkan kondisi sekarang; harga cengkih Rp 70 ribu/kg, harga premium Rp 6.500, harga beras Rp 10 ribu, 1 kg cengkih setara 7 kg beras. Sementara kondisi dulu; harga cengkih Rp 15 ribu/kg, harga premium Rp 350/liter, harga beras Rp 75/liter, lalu 1 kg cengkih setara 200 kg beras. Melihat perbandingan itu, seharusnya harga cengkih kering sekarang sudah berharga Rp 2 juta/kg jika mengikuti perhitungan kondisi dulu. Karena 200 kg beras kondisi dulu dikali harga Rp 10 ribu per 1 kg beras kondisi sekarang.

Persoalan ini pun membuat petani meradang. Apalagi, dengan hitungan bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Perkebunan Provinsi Sulut, yang menyatakan dengan harga jual Rp 58 ribu per kilogram. Petani Sulut masih mendapatkan untung, meski volumenya memang jauh dari dambaan.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia Perwakilan Sulut Paul Adrian Sembel angkat bicara. Soal pernyataan yang dinilai kurang berpihak pada kelangsungan hajat petani Sulut, yang sekira 60 persen masih menggantungkan dapurnya di emas cokelat. “Mana bisa hanya dengan Rp 58 ribu per kilogramnya, sangat tidak manusiawi dan logis. Disayangkan memang, jika pemerintah kurang memberikan perhatian ekstra bagi kami,” seru Sembel.

Lanjut dia, padahal tidak sedikit sumbangsih petani cengkih bagi pendapatan negara dalam setahun. Tak tanggung-tanggung Rp 149 triliun atau setara dengan 10 persen total APBN. Datang dari pita cukai rokok yang dikumpulkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepanjang tahun ini.

“Dari mana datangnya devisa itu, kalau bukan dari petani cengkih. Ingat, perusahaan rokok jika berdalih mereka selama ini merugi, akibat pengurangan atau efisiensi produksi. Lantas, kenapa ada ekspansi perusahaan rokok dari Marlboro di Indonesia. Karena peluang, memanfaatkan harga cengkih yang kurang ketat dari pihak eksekutif,” ulasnya.

Dirinya pun menambahkan, petani cengkih Sulut tak perlu hebatnya sarana dan infrastruktur, jika harga jual saat ini tak lebih dari sekadar mencukupi kebutuhan sehari-hari. Katanya, soal kebijakan, para elit dan pemangku kepentingan pasti lebih lihai menentukannya. Kemudian masih minimnya upaya pemerintah mengakomodir pengeluhan petani, mengibaratkan eksekutif masih lebih menjamin kelangsungan usaha produsen rokok ketimbang petaninya.

“Petani tak butuh jalan tol yang panjang dan bebas hambatan, tak butuh sarana penunjang industrialisasi, mereka simpel mikirnya. Yang penting harga jual cengkih sudah bisa dikonversikan menjadi modal untuk kelangsungan usaha berikut saja sudah senang,” kritiknya, sembari menambahkan, mendesaknya pemberlakukan resi gudang, keterlibatan perusahaan atau perbankan daerah, serta penentuan pengambilan harga dasar cengkih. “Lebih memberikan jaminan bagi petani di daerah Nyiur Melambai,” sambungnya.

“Masalah ini sebenarnya sudah klasik, dan beberapa kali kita soundingkan ke pemerintah. Bahkan sampai ke Jakarta, kalau pusat tidak bisa berbuat banyak? harusnya soliditas pemerintah daerah hadir,” tutup Sembel.

Senada, Petani Cengkih Sonder, Kabupaten Minahasa Adi Palit menambahkan, keterlibatan Bank Pembangunan Daerah (BPD) atau Bank Sulawesi Utara Gorontalo dirasa perlu guna memberikan garansi finansial bagi petani tatkala panen nanti.

“Jadi ada jaminan saat kita membutuhkan kucuran rupiah. Sekalipun ada bunga di sana, penetrasi BSG pastinya mendapatkan sambutan hangat dari petani. Sekaligus mengumpul semua hasil panen kan, otomatis ketika komoditas ini makin sedikit di lapangan. Permintaan dari pabrik pasti tinggi, ada kontraksi harga di sana,” sarannya.

Dirinya pun  menyatakan, andai saja harga jual cengkih bisa di atas Rp 100 ribu, tentunya kekhawatiran petani bisa sedikit mereda. Bukan hal baru. Kondisi ini mendorong petani untuk menjual buah cengkih ketimbang mengolahnya sampai kering. Biaya operasional yang terus membengkak tiap tahunnya, tak dibarengi dengan perbaikan harga beli. Hal ini yang membuat petani, semakin patah arang. “Pemeliharaan setahun saja, jika ada yang memiliki kebun yang lumayan besar. Bisa sampai ratusan juta biayanya, ongkos semua sekarang semuanya naik. Tapi harga jual cengkih masih begitu-begitu saja,” sesal dia.

Pemerintah sudah saatnya, lanjutnya, sigap dalam menyelesaikan problematika ini. Jangan hanya fokus dengan keberhasilan mengelola mesin partai. Petani Sulut butuh jaminan, apakah cengkih masih bisa menjadi sumber nafkah bagi masyarakat, di beberapa tahun mendatang. “Kalau ada figur yang memang memperhatikan kondisi ini, pastinya bisa mendapatkan apresiasi dan simpati petani. Sayangnya, upaya ini belum menunjukkan keberpihakan bagi kami. Stop dulu urus politik. Tolong berpihak dulu kepada petani,” tutupnya.

Sementara itu,  Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sulut Franky Manumpil menyatakan, kondisi harga jual cengkih saat ini menjadi perhatian serius pihaknya. Karenanya, pihaknya bersama SKPD dan instansi terkait, bakal melaksanakan pertemuan dan membahas, berapa sebenarnya biaya pemeliharaan hingga produksi. Guna menjadi dasar acuan, harga jual cengkih nantinya. “Masih akan kita bicarakan lebih lanjut lagi, yang terpenting sekarang. Berapa data real nya, cost pemeliharaan sampai dengan produksi cengkih ini. Biar ada solusi bersama terkait hal ini,” kuncinya.(jul)

PREDIKSI BIAYA PERAWATAN DAN PEKERJAAN CENGKIH:

3 BULAN KEBUN HARUS DICANGKUL:
- 1 hektare: Rp 1 juta.
- 1 tahun: Rp 4 juta.
- 5 tahun satu kali panen raya.
- Total biaya pembersihan: Rp 20 juta

3 BULAN HARUS DIKELUARKAN ULAT:
- 1 ulat: Rp 5 ribu.
- Rata-rata 100 ulat per 3 bulan. Dikali 5 ribu: Rp 500 ribu.
- Dikalikan 4 triwulan: Rp 2 juta.
- Dalam 5 tahun: Rp 10 juta.

BIAYA PEMETIK:
- 1 liter mentah: Rp 5 ribu.
- Penjemur cengkih 1 kg kering: Rp 5 ribu.
- Jika panen 5 ribu liter cengkih mentah atau 1 ton kering berarti upah pemetik: Rp 25 juta.
- Untuk penjemur: 5 juta.
- Untuk tapis/aya-aya: Rp 750 ribu
- Biaya transport, kopi, gula, dll: Rp 5 juta
TOTAL BIAYA: Rp.65.750.000

KONDISI SEKARANG
- Harga Cengkih:  Rp 70 ribu/kg
- Harga Premium: Rp 6.500
- Harga Beras: Rp 10 ribu
- 1 kg cengkih setara 7 kg beras

KONDISI DULU
- Harga Cengkih Rp 15 ribu/kg
- Harga Premium Rp 350/liter
- Harga Beras Rp 75/liter
- 1 kg cengkih setara 200 kg beras

Kirim Komentar