20 Jun 2019 08:53
Panen Raya, `Emas Cokelat` Sekarat

Pemprov: Harga Cengkih 58 Ribu, Petani Masih Untung

MyPassion
Ilus.(dok Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM—Harapan petani cengkih di Sulawesi Utara untuk mendapatkan harga jual optimal belum bisa terealisasi. Jelang panen raya di Juli mendatang, petani ‘emas cokelat’ ini terancam gigit jari soal harga jual.

Dari data dihimpun, di Sulut yang bergelut di komoditi cengkih ada 73.597 rumah tangga. Komoditas andalan Sulawesi Utara ini diungkapkan pemerintah daerah, tak masuk komoditas strategis, seperti bahan pokok semisal beras. Nilai jual cengkih saat ini yang berada di rentangan Rp 70 hingga 80 ribu per kilogram masih dianggap menguntungkan petani.

“Kita sudah berdiskusi dengan Dinas Perkebunan, setelah ditelusuri ternyata dengan nilai jual 58 ribu rupiah saja, petani masih untung. Jadi, saat panen misalnya, secara keseluruhan biaya yang dikeluarkan petani itu tak lebih dari 58 ribu,” sebut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulut Jenny Karouw saat diwawancarai Manado Post. “Memang panen raya ini hanya lima tahun sekali, secara keseluruhan memang petani untungnya berkurang. Tapi bukan tidak ada profit sama sekali,” sambung Karouw.

Meski begitu, lanjut dia pihaknya tak punya kompetensi lebih mengintervensi harga jual di pasaran. Pasalnya dengan diberlakukannya mekanisme impor cengkih, belum lagi aksi menahan diri perusahaan rokok untuk melakukan pembelian cengkih petani. Alasan intensnya pemerintah pusat mendorong gerakan hidup sehat pun jadi dalih pemerintah. Pemerintah beralasan program tersebut berdampak langsung pada produksi rokok di Indonesia. “Kita bukan tanpa usaha, ada sejumlah terobosan yang dilakukan pak gubernur, diantaranya dengan meminta keringanan ke Kemenkeu soal pengenaan pajak. Khususnya pembelian cengkih langsung ke tingkat petani, bukan cengkih yang sudah diolah menjadi bahan setengah jadi, tetap kena pajak itu,” timpalnya.

Kedepannya, pihaknya bakal mendorong peran BUMD untuk turun langsung menyerap cengkih petani saat panen tiba. Supaya penetrasi yang bersamaan dengan pembeli besar (pabrik, red) diharapkan mampu memberikan jaminan stabilitas harga jual cengkih. “Jadi biar petani punya banyak opsi menjual hasil pertaniannya ini, tak serta merta berharap ke pengepul besar, yang ujung-ujungnya jatuh ke perusahaan rokok juga. Petani kurang diuntungkan juga kan nantinya,” tandas Karouw.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Cengkih Sulut Paul Adrian Sembel angkat bicara soal harga cengkih yang makin tak berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Bukan tanpa alasan, kata Sembel ada 60 persen warga di Sulut yang masih menggantungkan harapannya pada cengkih. “Percuma infrastruktur dan prasarana di Sulut itu hebat, kalau sektor yang menyentuh langsung ke masyarakat ini tak pernah diperhatikan pemerintah, ada memang, tapi belum maksimal,” seru dia.

Ditambahkannya, kelangsungan usaha pabrik rokok di Indonesia, masih lebih dijamin pemerintah ketimbang petani, yang menjadi tulang punggung penerimaan negara, lewat cukai rokok. “Tahun ini, target pita cukai rokok yang ditetapkan Kemenkeu itu 149 triliun rupiah. Angka itu 10 persen dari APBN kita. Bayangkan, jika petani kompak tidak menjual cengkih ke pabrik rokok, bisa apa pemerintah? Tapi sayangnya, realita ini yang belum bisa diperbaiki pemerintah,” kritiknya.

Menurut Sembel benar ada intervensi dari pemerintah daerah. Tapi belum optimal. katanya harusnya cengkih ini dijadikan komoditas strategis. Berlakukan resi gudang, tetapkan harga dasar pembelian cengkih. Buat apa? Memproteksi petani, biar harganya tidak jatuh seperti sekarang. “Dan jangan salah, jika dikaitkan dengan politik, pastinya tidak sedikit petani yang akan memberikan support kepada pemimpin, yang lebih memperhatikan nasib petani cengkih. Kami tidak paham dengan regulasi, hanya berharap saja, keberadaan kesejahteraan petani cengkih bisa lebih baik, setidaknya masih memberikan harapan untuk anak cucu nanti,” papar dia.

Sementara itu, Sekretaris Aprindo Sulut Robert Najoan mengatakan, realita ini tak membantah jika harga jual cengkih lebih ditentukan oleh mekanisme pasar. “Kalau produksi dan permintaan itu tidak seimbang, artian produksi lebih dominan ketimbang permintaan, ada penurunan harga berarti di sana. Kurang lebih seperti itu, tapi kami tentunya berharap, ada perbaikan harga jual juga. Agar supaya merangsang daya beli petani ke ritel, perputaran uang berjalan baik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena konsumsi masyarakat membaik,” tukasnya.

Di lain tempat, kondisi lebih memprihatinkan terjadi. Di mana petani cengkih Boltim mau tak mau harus rela menjual emas cokelatnya di bawah harga. “Bahkan sekarang menyentuh angka Rp 50 ribu per kilogram. Kami sudah rugi besar," ujar Yapi Kalo, petani asal Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Boltim.

Senada dikatakan Utung Bisnun, petani asal Desa Bukaka. Dia membeber selama musim panen tidak ada keuntungan yang didapatkan. Melainkan rugi, karena hasil jual tidak sebanding dengan apa yang dikeluarkan. "Biar hasil panennya besar, tapi harganya murah tetap saja rugi. Sudah berapa kali musim panen harga cengkih masih belum stabil," keluhnya.

Menurut dia, bukan hanya soal harga. Hal lain yang juga menjadi masalah petani adalah hujan yang terus turun hampir sepekan ini. Akibatnya para petani tidak bisa menjemur hasil panennya. "Sudah harga anjlok, cengkih lama keringnya, karena sudah berapa hari ini hujan,” ujarnya. Dia berharap pemerintah bisa mendapatkan solusi terbaik untuk menstabilkan kembali harga cengkih. “Tentunya semua petani berharap harga cengkih bisa kembali normal. Meskipun harganya tidak seperti dulu, paling tidak naik sedikit dari sekarang,” harapnya.(Tim Manado Post/jul)

Kirim Komentar