18 Jun 2019 12:20

Dorong Pemuda Jadi Entrepreneur, Imanuel Kamangta Gelar Lomba Kewirausahaan

MyPassion
Juri David Mengko (kemeja biru), sementara menilai hasil kerajinan tangan P/KB. Foto lain, juri dan beberapa pemuda utusan kolom yang ikut lomba kewirausahawan

MANADOPOSTONLINE.COM—Untuk memperingati HUT Pekabaran Injil  (PI) dan Pendidikan Kristen (PK), Jemaat GMIM Imanuel Kamangta  menggelar  lomba kreativitas dan kewirausahaan antar kolom.

Khusus untuk  UPK Bapa, lomba membuat kerajinan tangan berbahan baku hasil perkebunan. Misalnya tempurung, batang kelapa, bambu, dan lain-lain.

Sementara untuk UPK Pemuda, lomba kreativitas membuat kue jajanan kampung yang diangkat derajatnya  menjadi jajanan kekinian. Produknya berbahan baku hasil pertanian di jemaat setempat. Misalnya ubi, jagung, pisang, kelapa dan lain-lain.

Namun penyajiannya harus menarik sehingga bisa viral dan laku di pasaran. Yang dinilai, selain proses pembuatan, juga bagaimana peluang pasarnya nanti. Prospek bisnisnya seperti apa. Apakah menguntungkan dengan omset banyak, atau tidak.

Lomba ini menampilkan juri seorang pemuda gereja yang sukses menjadi pengusaha muda dengan cara omset per bulan di atas Rp 100 juta. Yaitu David Mengko, yang berhasil mengembangkan Es Cendol 77. Mahasiswa Fekon Unsrat Manado ini berharap, makin banyak pemuda GMIM yang punya jiwa entrepreneur. Sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan .

David mengaku, selama ia menjadi juri lomba-lomba kewirausahawan, baru kali ini kegiatannya dilaksanakan oleh gereja. “Baru kali ini juga dilaksanakan dalam rangka HUT PI dan PK. Dan menarik, baru kali ini juga lombanya antar UPK pemuda di kolom,” ujarnya.

Ia berharap, ada lomba di jenjang lebih tinggi yaitu antar pemuda  jemaat di tingkat Sinode. “Tujuannya, untuk menularkan jiwa entrepreneur kepada generasi muda sebagai tulang punggung dan generasi  penerus gereja,” harapnya.

David sendiri merupakan  pengusaha muda (21 tahun). Bisnisnya Es Cendol 77 beromset di 200 juta tiap bulan. Ia prihatin dunia usaha dan sektor informal di Manado, dikuasai bukan pemuda gereja.

"Generasi muda kita malu untuk jual-jualan di Manado. Dorong gerobak penjual martabak dan mie bakso itu, banyak pendapatan mereka. Buang itu rasa malu. Semua pasti bisa, tinggal masalahnya kemauan. Mau melangkah atau tidak,” katanya.

Dia meminta, tunda dulu kesenangan. “Saya waktu kuliah, jual HP dan sepeda motor saya dan uangnya buat modal jual es cendol. Sekarang es cendol 77 saya sudah tersebar di 11 cabang. Tiap hari omsetnya 1 juta. Dikali 11, berarti 11 juta. Kalau sebulan, omset saya 330 juta. Dikurangi biaya produksi, sekitar 30 persen," pungkas David. (ite)

Kirim Komentar