17 Jun 2019 11:06

PDI-P Pilih Ketum, Peluang Regenerasi Terbuka

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COMPartai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) bermaksud mempercepat pelaksanaan Kongres V yang direncanakan dimulai 8 Agustus 2019 di Bali. Sedianya perhelatan akbar PDIP baru dilakukan pada 2020.

 

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto pun menjelaskan alasan kongres dipercepat. Dia mengatakan, selain menyesuaikan dengan agenda pemerintahan negara, PDI Perjuangan juga bermaksud menyesuaikan seluruh agenda strategis partai pasca pemilu 2019.

“Sehingga ini sebagai langkah bagi tugas ideologis strategis partai ke depan. Itulah yang menjadi intisari pemikiran Ketua Umum PDIP, Ibu Megawati Soekarnoputri,” ujar Hasto.

Hasto mengatakan, percepatan kongres tak lain untuk mendukung pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin ke depan. Artinya, ketika anggota DPR/MPR dilantik, presiden-wapres dilantik, lalu kabinet dibentuk, maka struktur partai sudah terkonsolidasi untuk mendukung pemerintah. “Jadi, keputusan mempercepat sangat strategis dan sebagai implementasi jati diri sebagai partai pelopor,” katanya.

Sebelumnya, ‎Sekretaris Badan Pendidikan dan Latihan DPP PDIP, Eva Kusuma mengatakan, PDIP mempercepat kongres lantaran ingin ada percepatan regenerasi.

“Saya yakin ketum sedang menyiapkan regenerasi PDIP dengan cermat, baik ketum tetap beliau ataupun penggantinya yang ditunjuk. Karena setiap kongres, oleh partai apapun, agendanya nyari ketum baru,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai percepatan Kongres PDI Perjuangan membuka peluang regenerasi kepemimpinan partai berlambang banteng tersebut.

Nama Joko Widodo dalam hal ini dinilai punya peluang masuk bursa calon Ketum PDIP namun terganjal untuk menjadi penerus Megawati Soekarnoputri karena bukan keturunan Presiden RI pertama Sukarno.

Jokowi berdasarkan sejumlah survei disebut punya peran besar mendongkrak elektabilitas PDIP di Pemilu 2019 karena faktor coattail effect. PDIP di Pileg 2019 berdasarkan penghitungan KPU ditetapkan meraih 27.053.961 suara atau setara dengan 19,33 persen dari total 139.971.260 suara sah.

"Regenerasi tergantung selera hati teman-teman di PDIP," kata Adi, Minggu (16/6) dikutip dari Antara, sebagaimana dilansir dari cnnindonesia.com.

Di satu sisi, katanya, mungkin saja fungsionaris PDIP tetap akan mendaulat Megawati melanjutkan kepemimpinan sebagai ketua umum karena putri Bung Karno itu merupakan simbol ideologis PDIP.

"Di bawah Megawati PDIP bisa bertahan signifikan dalam habitus yang berbeda, baik sebagai oposisi maupun sebagai penguasa, sama kuatnya," kata dia.

Di sisi lain, Adi mengatakan peluang regenerasi juga terbuka. Apabila kader dan fungsionaris PDIP serta Megawati menghendaki adanya penerus, maka nama yang paling kuat menggantikan Mega menurutnya adalah putri Megawati, Puan Maharani.

"Nama Puan Maharani dianggap paling representatif karena mewarisi dua hal penting. Yakni, sebagai anak biologis dan ideologis Megawati untuk melanjutkan trah Sukarno," ujar dia.

Apalagi, kata dia, Puan saat ini digadang sebagai kandidat kuat Ketua DPR periode 2019-2020. "Suka tak suka, PDIP itu adalah partai yang lekat dengan trah Soekarno dan tradisi Marhaen," jelasnya.

Sementara di luar nama Puan, juga ada nama kader andalan PDIP yakni Presiden Jokowi. Dalam banyak hal, kata dia, potret politik Jokowi mempersonifikasikan sikap politik kerakyatan sesuai nafas dan ideologi PDIP. "Tapi problemnya Jokowi bukan trah biologis Sukarno," jelas dosen UIN Syarif Hidayatullah itu.

Dia menilai putra Megawati, Prananda Prabowo, juga berpeluang menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum. Tetapi jika disandingkan dengan nama Puan, menurutnya nama Puan lebih santer dikaitkan dengan regenerasi tersebut.(gel)

Kirim Komentar