14 Jun 2019 13:17

Caleg Terpilih Diserang Dugaan Korupsi

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Meski sering diterpa sejumlah isu tak sedap. Namun langkah calon legislatif (caleg) di Kabupaten Mitra, yaitu SM masih tetap mulus. Sekretaris partai yang sebelumnya dikabarkan terlibat dalam dugaan korupsi bibit cengkih ini, mampu meraih suara terbanyak kedua.

 

Dia memperoleh 2.234 suara dari dapil yang melingkupi Ratahan, Ratahan Timur, Pasan, Posumaen. Saat dikonfirmasi, SM mengaku terkait  kabar dugaan korupsi bibit cengkih yang menyerang dirinya, ia tak mau ambil pusing.

Dia menyebut itu hanya bagian dari politisasi menjatuhkan namannya. “Sudah tidak usah diperbesar. Karena itu bagian dari politisasi untuk menjatuhkan nama saya,” katanya saat dikonfirmasi.

Ia mengatakan saat tahap sosialisasi lalu, dirinya menerapkan sejumlah strategi khusus. Yaitu dengan bekerja dan pendekatan langsung ke masyarakat. “Yang pasti kemenangan ini tak lepas dari kerja keras. Yakni dengan turun sosialisasi langsung ke masyarakat,” katanya.

Untuk itu, dia memastikan bakal segera melakukan klarifikasi terkait hal tersebut. Meski dia mengakui masalah tersebut sudah dalam tahap pemeriksaan di Polda Sulut.

“Tetap ini akan saya klarifikasi. Tapi nanti tunggu suratnya keluar, bahwa saya benar-benar tidak terbukti,” tandas politisi PDIP tersebut.

Pengamat Politik John Kaawoan menilai, kemenangan caleg yang diisukan bermasalah, tak lepas dari kekuatan basis masa yang sudah dimiliki jauh sebelum pencalonan. Apalagi dugaan yang menyerang baru sebatas isu, belum ada keputusan pengadilan.

Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap calon tersebut masih sangat tinggi. "Tentu ada strategi pendekatan khusus ke masyarakat. Sehingga meski calon diterpa isu negatif,  namun kepercayaan masyarakat masih tetap ada," katanya.

Namun di sisi lain, menurut Kaawoan, menangnya caleg yang diisukan bermasalah, juga tak menutup kemungkinan disebabkan beberapa faktor.

Misalnya kemungkinan menggunakan money politics saat pendekatan ke masyarakat. Serta pengaruh kendaraan parpol yang digunakan saat pencalonan.

“Selain memanfaatkan pemilih yang masih sebagian besar bersifat pragmatis. Kemungkinan lainnya faktor parpol yang digunakan. Baik dari segi popularitas, ataupun kekuatan sebagai partai penguasa,” tutupnya.(cw-01/gnr)

Kirim Komentar