13 Jun 2019 13:40

Dampak Anjloknya Harga `Emas Cokelat`, Pengucapan Syukur Minahasa Bisa Kurang Mewah

MyPassion
Ilus.(Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM—Perayaan pengucapan syukur jadi budaya bagi masyarakat di Tanah Toar Lumimuut. Mengucap syukur atas berkat dan kelimpahan, utamanya dari hasil pertanian dan perkebunan. Dua sektor riil tersebut, memang masih menjadi kontributor utama penyumbang pundi-pundi rupiah bagi warga di Kabupaten Minahasa.

Disayangkan, jelang perayaan Pengucapan Syukur, yang ditetapkan pemerintah tanggal 21 Juli mendatang. Para petani cengkih khususnya, merasa masih rendahnya nilai jual 'emas cokelat' miliknya. Bagaimana tidak, harga jual cengkih kini tak lebih dari Rp. 70 ribu perkilogram. Nominal tersebut, dinilai jauh dari harapan petani. Pasalnya, pemeliharaan dan perawatan komoditas asli Nyiur Melambai ini, diketahui cukup menyita anggaran dan waktu.

"Bulan depan ada momen pengucapan syukur, tapi kondisi harga jual cengkih saat ini, sepertinya kurang memberikan jaminan bagi kami petani," keluh Frans Karepowan, satu dari Petani Cengkih di Minahasa.

Bahkan, lanjut dia, sejumlah pengumpul menawarkan untuk membeli cengkih petani, tak lebih dari Rp. 60 ribu perkilogram. Kondisi ini membuat, persiapan warga jelang hajatan tengah tahun nanti, bisa kurang optimal.

"Sudah bertahun-tahun kondisi ini kami alami, dan sebelumnya sudah beberapa kali disampaikan pemimpin daerah, kalau ada perbaikan harga jual cengkih. Tapi, nyatanya kondisi ini masih terus berlangsung. Kami tak punya pilihan, selain menjual cengkih meski dengan harga yang kurang sesuai," sesalnya.

"Jika harga jual cengkih minimal bisa mencapai Rp.100 ribu perkilogram, itupun masih memberikan sedikit keuntungan bagi kami petani, karena ongkos kerja para pekerja, tiap tahunnya pasti naik. Beban produksi kami ikut meningkat juga secara otomatis. Kami berharap pemerintah bisa segera mengambil solusi," tambah Jantje Watuseke petani cengkih asal Kakas Barat.

Dari pihak eksekutif, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Minahasa  Sherly Bukara menyatakan, perlunya inisiasi menggandeng pembeli besar, turun langsung menyerap hasil produksi perkebunan, jadi salah satu upaya untuk mendongkrak harga jual komoditas andalan Sulut ini.

"Kalaupun ada pembeli yang mematok harga di bawah Rp.70 ribu perkilogram, pastinya itu pengepul biasa. Yang ingin menjualnya lagi ke pengumpul yang lebih besar. Nah, sekarang kami berupaya untuk melobi pembeli dari pabrik rokok langsung. Biar, harga belinya itu langsung ditetapkan pembeli besar, selain itu volumenya bisa jauh lebih besar. Ini yang sementara kita upayakan," sebut Bukara.

Olehnya, pihaknya berharap, kepada seluruh petani cengkih di Minahasa untuk bersabar dan menunggu momen pas untuk menjual hasil perkebunannya tersebut.(tr-03/jul)

Kirim Komentar