13 Jun 2019 09:12

290 Ribu Warga Sulut Was-was, Harga Cengkih Terus Merosot

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) didominasi petani dan pekebun. Dari data dihimpun, paling banyak bergelut di komoditi kelapa. Sebanyak 202.049 rumah tangga. Disusul cengkih 73.597 (selengkapnya lihat grafis, red). Dengan begitu, sangat banyak masyarakat yang menggantungkan hidup mereka pada komoditi andalan Sulut ini.

 

Misalnya cengkih. Jika 73.597 rumah tangga di kali empat anggota keluarga, maka sekira 290 ribu warga Sulut saat ini sedang was-was. Akibat harga cengkih yang terus turun. Pemerintah pun didesak ambil langkah konkrit terkait masalah ini.

Tak hanya cengkih yang memprihatinkan. Pala dan kopra pun harus diperhatikan. Petugas Informasi Pasar (PIP) Dinas Perkebunan Provinsi Sulut Jufry Iroth mengungkapkan sekarang sudah masuk masa panen.

Sehingga penurunannya cepat sekali. Dia melanjutkan saat ini harga komoditas unggulan Sulut cenderung stagnan. "Apalagi kakao dan pala, tidak bergerak harganya," jelasnya.

Untuk kopra dia melanjutkan produksi saat ini sedang banyak-banyaknya. "Stok banyak. Selain itu negara penghasil kopra juga banyak. Filipina dan lainnya penghasil juga sehingga agak sulit untuk menangkap itu," tandasnya.

"Menurut saya harus ada diversifikasi produk, kembali lagi kepada produk turunan kelapa, kalau ada itu pasti kita tidak bergantung ke kopra," imbuhnya.

Pengamat pertanian Sulut Deddie Tooy mengungkapkan sebenarnya ada semangat kuat dari pemerintah membuka kran ekspor langsung ke luar negeri agar komoditi primadona Sulut tetap jadi unggulan.

"Pak Gubernur sementara berusaha memangkas biaya transport ekspor dengan kerjasama jalur Bitung-Filipina-Vietnam tapi kembali lagi industri pala, kelapa dan coklat bisa berkembang kalau ketersediaan bahan baku terus berkelanjutan," tukasnya.

12
Kirim Komentar