12 Jun 2019 08:39
Pembeli Terbentur Regulasi

Butuh Intervensi, Emas Cokelat Terancam Berkarat

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Harga jual cengkih tak semanis periode 1990-an silam. Makin dekat panen raya, harga beli komoditi andalan Sulut yang biasa disebut emas cokelat itu, terjun bebas. Terancam berkarat.

 

Pantauan di pasaran, harga cengkih kini berkisar Rp 70 ribu-Rp 80 ribu per Kg (kilogram). Padahal sebelumnya sempat menginjak di angka Rp 90 ribu-Rp 100 ribu. Ini membuahkan keluhan petani cengkih. Sayangnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut tak bisa berbuat banyak.

“Sekarang pengecer atau pembeli cengkih dengan jumlah besar makin jarang hadir di Sulut. Bagaimana tidak, penerapan pajak yang besar. Coba saja kalau ada yang beli di atas 5 miliar, pasti langsung ditelusuri pihak terkait. Ini masalahnya,” ungkap Gubernur Olly Dondokambey.

Meski begitu, pihaknya terus mencari solusi bersama. Baik mencari pasar penjualan cengkih di pasar internasional. Hingga mengintervensi mekanisme pasar. “Sehingga harga jual emas cokelat ini bisa berada di level yang mensejahterakan petani,” ucapnya.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DPD Sulut Ivanry Matu membenarkan pernyataan gubernur. Malahan, kata dia, minimnya mekanisme dan hilirisasi industri bahan baku terkait di Sulut, memperparah kondisi emas cokelat di Sulut.

“Coba kalau ada pabrik yang berhubungan dengan cengkih di Sulut, bukan hanya industri rokok saja. Misalnya, pabrik kosmetik atau farmasi. Atau setidaknya, komoditas yang dimiliki masyarakat ini, diolah oleh pengusaha, untuk kemudian di recycle menjadi bahan setengah jadi. Jangan hanya jual cengkih atau bahan mentah saja,” jelasnya.

Membantu petani, Kadin Sulut, lanjutnya, telah berupaya melobi pemerintah Belanda menambah opsi pembelian komoditas asli Sulut. Tak hanya cengkih. Pala dan vanili juga menjadi komoditas yang ditawarkan. Nantinya akan ada business matching antara pembeli dari Belanda dan petani cengkih.

Langkah ini diharapkan, mampu memberikan harapan baru bagi petani cengkih, kelapa dan pala. “Yang diperlukan, selain harga jualnya bisa dibilang pas-pasan, petani juga sering mengalami masalah pemberian pinjaman atau finansial. Khususnya dari perbankan. Harusnya, semua pihak bisa bersama-sama mencari solusi atas permasalahan klasik ini,” terangnya.

123
Kirim Komentar