11 Jun 2019 08:27

Petani Mohon Bantuan Gubernur, Cengkih Minimal 100 Ribu/Kg

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Petani mohon pemerintah bantu naikkan harga komoditi andalan Sulut ini 100 ribu/Kg. Kalau harga seperti sekarang hanya 80 ribu/Kg, petani mengaku rugi.

 

Karena cengkih ini panen raya 4 tahun sekali. "Kalau harga di bawah 100 ribu rupiah, tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan selama empat tahun. Biaya panen saja untuk ongkos pemetik, mengeringkan, dan membersihkan cengkih yang sudah kering, sudah menguras 50 persen hasilnya. Jika ditambah biaya membersihkan kebun dan membersihkan pohon cengkih dari serangan ulat hama selama 4 tahun, dengan harga sekarang tidaklah cukup," ujar Wahyudi Tamuntuan, petani cengkih di Minahasa.

Tamuntuan menjelaskan, jika harga cengkih 80 ribu/Kg, untuk 100 Kg kering hasilnya Rp8 juta. Kemudian biaya pemetik, sekitar Rp 3 juta.  Karena 1 liter, Rp5 ribu untuk biaya pemetiknya. Untuk 100 Kg kering, sekitar 600 liter cengkih mentah. Karena 1Kg cengkih kering, sekitar 6 liter cengkih mentah.

Jadi total biaya pemetiknya, Rp 3 juta. Selanjutnya biaya tenaga untuk mengeringkan (jemur di matahari) dan membersihkan cengkih yang sudah kering, sekitar Rp 1 juta.

Jadi total biaya panennya Rp 4 juta untuk setiap 100 Kg cengkih kering. Jadi dari Rp 8 juta hasil penjualan, pemilik cengkih hanya dapat 1/2 atau Rp 4 juta.

"Kasarnya, hasilnya hanya dibahagi dua oleh kami pemilik cengkih dan orang kerja. Belum kalau saya hitung biaya pemeliharaan selama 4 tahun. Setahun, 2 kali kebun cengkihnya harus dicangkul. Begitu juga hama cacing di pohon cengkih, harus dibersihkan setiap 6 bulan. Selama 4 tahun, biaya pemeliharaannya sekitar 5 juta. Jadi tekor atau rugi 1 juta rupiah," jelas Tamuntuan.

Keluhan yang sama juga diutarakan petani cengkih di Kecamatan Kombi. “Kami berharap Pak gubernur menunjukkan keberpihakan dan kepedulian kepada kami petani cengkih. Sudah cukup lama kami petani cengkih di Sulut menderita. Kami sulit sekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi. Banyak anak-anak kami hanya tamat SMA, langsung merantau,” keluh Bolung, petani Minahasa.

123
Kirim Komentar