11 Jun 2019 10:03

ORI Sulut: RS Bethesda Tomohon Bisa Kena Sanksi

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Sekuel kematian Diana Kalalo (36) wanita yang menjadi korban persalinan di Rumah Sakit (RS) Bethesda Kota Tomohon, terus menuai tanda tanya. Yang terbaru, pihak keluarga korban, langsung mencari kebaruan informasi, langsung dari penuturan Ketua Tim Kode Etik Kedokteran RS Bethesda Tomohon.

Riel Pontoh, perwakilan keluarga korban menuturkan, pihaknya sampai saat ini masih menyayangkan ketersediaan kantung darah di RS yang dikelola di bawah GMIM.

“Saya mewakili keluarga, telah berkomunikasi dengan Ketua Tim Kode Etik Kedokteran RS Bethesda Tomohon dr PN Hariyanto SPPD. Dirinya (hariyanto, red) menyatakan akan mengevaluasi kinerja semua petugas medis kala proses persalinan waktu itu. Tapi, secara keseluruhan kami menyesalkan persiapan RS Bethesda, yang tidak tanggap dan siap dengan kondisi yang bisa saja terjadi,” papar Pontoh, sembari membantah benar saat kejadian. Tidak  ada kehadiran  dokter kandungan yang menjaga korban waktu itu.

“Begitupun saat ditanyakan kepada perawat jaga membenarkan hal tersebut. Makanya, kami sampai sekarang masih sangat tidak puas dengan pelayanan di RS Bethesda. Lagian, Pak Direktur  RS Bethesda,  tidak ada di tempat saat itu dan hanya menerima laporan sepihak dari petugas RS," sesalnya lagi.

Pihaknya meminta, kepada pihak RS untuk membuka fakta dan tabir yang sebenarnya terjadi. Pertaruhan nyawa keluarganya, dirasa tidak sebanding dengan kualitas pelayanan yang diterima.

“Kami keluarga almh, meminta Tim Kode Etik Kedokteran dan RS Bethesda jujur. Dan membuka fakta sebenarnya, baik itu penanganan medis dan SOPnya.  Apalagi, RS ini bernaung di bawah GMIM yang korbannya Diana Kalalo, juga anggota GMIM Jemaat Bait-el Kakaskasen. Jangan fakta yang sebenarnya ditutupi, kalau memang ini akibat kelalaian petugas medis. Jangan sampai ada pembohongan apalagi mendustai,” serunya.

Sementara itu, Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sulut Helda Tirajoh, menilai adanya dugaan kelalaian itu menunjukkan adanya indikasi pelayanan yang kurang baik dari rumah sakit.

“Bisa diduga ada maladimistrasi di situ. Sebab, seharusnya ketersediaan darah selayaknya ada di rumah sakit. Dan tidak dibenarkan jika, stok persediaan darah itu habis. Harus ada pihak yang bertanggungjawab, terlebih  Kepala Rumah Sakit di RS Bethesda, selaku penanggung jawab semua hal yang terjadi di seluruh jalannya pelayanan medis di sana,” beber Tirajoh.

Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan aturan pelayanan publik yang kurang baik, dan cenderung buruk. “Patut dipertanyakan, apakah pihak rumah sakit punya standard pelayanan publiknya. Kami tengah mengkaji hal ini, penjatuhan sanksi tak tertutup dilakukan nantinya,” sebutnya lagi.  (jul)

Kirim Komentar