11 Jun 2019 08:57

Jauh Dari Rata-rata Nasional, Inflasi Sulut Tembus 2,6 Persen

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Untuk kali pertama, setelah sekian lama terkontrol, besaran inflasi di Sulawesi Utara. Lebih khususnya Kota Manado, untuk periode Bulan Mei mencatatkan realisasi yang terbilang luar biasa. 2,6 %, melejit jauh dari rata-rata inflasi nasional 0,68 persen. Dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik Sulut Ateng Hartono, meroketnya harga tomat sayur jadi biang keladi.

 

“Secara tahun berjalan, inflasi Sulut mencapai 1,14%. Adapun, inflasi secara year on year (yoy) atau dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu mencapai 2,11%, ini tentunya menjadi perhatian dan tanda awas bagi kita semua. Lebih-lebih dengan target inflasi di tutup tahun nanti,” ungkap Hartono.

Kenaikan harga pada kelompok pengeluaran bahan makanan yang mencapai 12,88%.  Dengan andil utama tomat sayur, punya peran penting di realisasi akhir bulan lalu.

 “Tomat sayur ini andilnya 2,13 persen, padahal bulan lalu kita tahu tomat sayur mengalami deflasi. Memang, sesuai pantauan kegiatan pertanian di Minahasa, banyak yang memilih tidak memetik tomat. Di saat harganya jatuh bulan lalu. Akibatnya holistik juga, sampai dengan bulan Mei kemarin, kualitas tomat yang dihasilkan cenderung lebih kecil dan tidak memenuhi kebutuhan pasar. Tidak seimbangnya pasokan dan permintaan membuat harga komoditas itu naik tajam di bulan lalu,” jelasnya.

Sementara itu, melihat realita ini. Kepala Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat menyatakan, pihaknya optimis memperklrakan laju Inflasi Sulut tetap berada pada rentang 3 plus minus 1% (yoy).

“Meskipun mengalami inflasi yang cukup tinggi di bulan Mei lalu, namun perlu diperhatikan bersama. Secara keseluruhan ada tiga komoditas pendorong inflasi, yakni bawang, cabai rawit (rica, red) dan tomat. Terus berupaya meningkatkan koordinasi, dan mengambil upaya-upaya bersama yang diperlukan guna, menjaga ketersediaan pasokan melalui lewat operasi pasar dan pasar murah khususnya komoditas strategis,” jelasnya.

Serta, menjaga keterjangkauan harga dan memastikan kelancaran distribusi di pasar tradisional. Pencanganan penanaman cabai rawit yang bekerja sama dengan beberapa elemen masyarakat juga penting dilakukan.(jul)

Kirim Komentar