10 Jun 2019 10:07

Mengucap Syukur Refleksi Iman, Rayakan Dengan Sederhana Tanpa Miras

MyPassion
Ilustrasi miras (Dok JawaPos.com)

MANADOPOSTONLINE.COM--Pelaksanaan pengucapan syukur merupakan tradisi yang sudah sejak lama dilaksanakan di tanah Minahasa. Hal ini mendapatkan perhatian tokoh-tokoh agama (toga).

 

Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Pdt Dr Hein Arina mengatakan, pengucapan syukur bagian dari refleksi iman orang yang percaya dan dari segi kultural atau budaya adalah prilaku atau kebiasan kita untuk menerjemahkan pungucapan syukur itu sendiri.

"Di Minahasa memang terbagi beberapa daerah dengan pemahamannya yang sedikit berbeda-beda. Namun harus dipahami yang paling penting iyalah bagaimana merefleksikan pengucapan itu secara theologis," ungkapnya.

Menurut dia, ketika ucapan syukur ini direfleksikan secara theologis dan alkitabiah pasti maknanya akan tepat. "Mempersiapkan untuk menyambut tamu itu baik, tapi yang penting tidak berlebihan dan seperti kata firman Tuhan bersukacitalah dalam segala hal," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Wilayah Kerapatan Gereja Babtis Indonesia (KGBI) Sulut Pdt Joy Lempas STh mengungkapkan, melaksanakan pengucapan syukur bukan hanya karena kita mendapatkan panen saja, tapi bagaimana kita mengucap syukur karena kasih anugerah Allah yang selalu ada setiap saat. "Sangat beralasan kita mengucap syukur, apalagi ketika mendapat berkat yang melimpah," ujarnya.

Dia mengatakan, merayakan pengucapan syukur sebetulnya tidak salah yang penting tidak dengan berlebihan, apalagi ketika kita menunjukan sifat yang duniawi, seperti menyediakan minuman keras (miras).

"Prinsipnya adalah hadirnya Allah dalam setiap pengalaman hidup anak-anak Tuhan dan bagaimana pengucapan syukur ini membawa kemuliaan bagi nama Tuhan," pintanya.

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut KH Abdul Wahab Abdul Gafur mengatakan, pengucapan merupakan rasa syukur kepada Tuhan yang maha kuasa atas setiap nikmat, berkah yang Allah berikan. "Jadi wajar-wajar saja bahkan wajib sebagai umat untuk mengucap syukur, termasuk umat Islam," jelasnya.

Dia menambahkan, jika mengucap syukur berterimah kasih, maka Tuhan akan menambahkan segala berkat kepada kita. Tapi ketika kita mengucap syukur dengan berlebihan berpesta pora, pesta miras dan lain sebagainya itu yang tidak baik.

"Mengucap syukur dengan sewajarnya, jangan sampai kita berutang hanya karena merayakan pengucapan tersebut," tandasnya.(tr-07/ite)

Kirim Komentar