10 Jun 2019 09:22

Lagi, Pariwisata Sulut Serap 90 Miliar Investasi

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Sejumlah upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara guna meningkatkan penerimaan daerah. Dari sektor pariwisata lebih khusus, menyusul dengan terjalinnya komunikasi bersama investor dari Perancis. Yang dikabarkan bakal mengucur anggaran sekira Rp. 90 Miliar. Hal ini tentunya, berbanding lurus dengan peresmian KEK Pariwisata di Likupang Kabupaten Minahasa Utara, beberapa waktu lalu.

 

“Kita sudah berdiskusi dengan investor dari Perancis. Arahnya ke sektor pariwisata. Dengan total investasi kurang lebih Rp.90 Miliar. Dune-Network sebagai calon investor telah melakukan survei sejumlah lokasi di Sulut. Daerah di Likupang jadi salah satu lokasi yang diminati mereka (investor, red),” terang Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulut Edwin Silangen.

Kemudahan sistem dan regulasi yang gencar didorong pemerintah pusat, yang ditransfer ke seluruh daerah. Diyakininya jadi penarik minat para pelaku usaha, baik dari dalam dan luar negeri.

“Dan pola ini juga, sudah sewajibnya diaplikasikan oleh seluruh pemerintah di daerah. Kan spesifikasi daerah di Sulut beda-beda, ada Bolmong dengan tambangnya, Tomohon punya sejuta pesona pariwisata dan kabupaten kota lainnya. Intinya, kita mempermudah tapi tidak kebablasan juga,” terang dia.

Sebelum investor dari Perancis tersebut, diketahui sejumlah pelaku usaha kelas internasional pun telah merambah Nyiur Melambai.

Sebut saja, PT Conch dengan investasi jangka panjang, rencana CT Corp perusahaan multi sektor milik Chairul Tandjung pun dikabarkan bakal menanamkan modalnya sebesar Rp 3 Triliun di Sulut. Dengan pariwisata dan jasa jadi bidang yang bakal disasar nantinya.

Hal ini tentunya mendukung pemerintah, yang tahun ini menargetkan penerimaan investasi kurang lebih Rp.12 Triliun.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sulutgomalut Slamet Wibowo menilai, makin baiknya kepercayaan investor ke Sulut. Wajib dimaksimalkan perbankan dengan menggencarkan penyaluran kredit produktif, bukan sebaliknya.

“Kami menantang beberapa bank yang memang segmen produktifnya perlu digenjot lagi. Terutama dengan adanya KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) di Sulut, otomatis pariwisata dan perdagangan jadi dua sektor yang paling terdampak. Dari sisi realisasi kredit investasi, memang tumbuh 24,51persen secara tahunan, hingga akhir pekan ketiga Bulan Mei lalu, atau sekira Rp.5,57 triliun. Keliatan kan, dengan adanya pembangunan infrastruktur, tapi sayangnya masih didominasi bank BUMN,”sebutnya.

Sembari menambahkan, pertumbuhan kredit investasi kali ini, jauh lebih tinggi daripada kredit modal kerja dan kredit konsumsi yang masing-masing hanya tumbuh 9,05 persen dan 3,42 persen. (jul)

Kirim Komentar