10 Jun 2019 12:49

Keluarga Korban Sesalkan Pelayanan RS Bethesda Tomohon

MyPassion
Ilustrasi.(Istimewa)

MANADOPOSTONLINE.COM—Kematian Diana Kalalo (36) di RS Bethesda Tomohon warga Kelurahan Kakaskasen meninggalkan duka mendalam bagi  pihak keluarga. Rasa penasaran dan ingin tahu, sebab-musabab meninggalnya korban terus datang.  Pasalnya, saat proses persalinan hingga melahirkan, korban masih dalam kondisi sehat. Setelahnya, malang bagi korban, terjadi pendarahan hebat tanpa penanganan medis yang tepat.

Korban sempat dibolak-balik ke Ruang ICU dan UGD. Apalagi korban hanya ditangani perawat dan dokter umum yang patut dipertanyakan kompetensinya. Dokter kandungan yang seharusnya stand by tidak berada di tempat. Sangat disayangkan karena RS Bethesda sudah mencapai standar 12 pelayanan akreditasi RS termasuk keselamatan.

"Pukul 12.30 WITA, Rabu (5/6) Almarhumah tiba di RS Bethesda dan langsung mendaftar.  Setelahnya, dibawa ke ruang bersalin. Tapi, kami tidak diizinkan masuk, kurang lebih 30 menit,  perawat  ke luar dari ruang bersalin dan memberikan resep, setelahnya sejam barangkali diinformasikan lagi bahwa almh telah melahirkan.

Namun, kurang lebih 10 menit, almh dibawa ke Ruang ICCUc dan selanjutnya dipindahkan ke UGD. Baru diinformasikan ke ibu almh  (Netty Kalalo) untuk segera mencari  pendonor darah karena korban mengalami pendarahan, guna proses pengobatan dan penanganan lanjutan," terang keluarga korban Riel Pontoh.

Memang, lanjut dia, kondisi mengupayakan keselamatan korban, terganjal dengan ketersediaan kantung darah. Yang menjadi sumber vital, yang nantinya digunakan untuk proses pengobatan korban.

Bahkan, setelah sempat berargumen hebat dengan pengurus PMI Tomohon, serta meminta bantuan dari Wakil Wali Kota Tomohon Syerly Adelyn Sompotan, yang juga Ketua PMI Kota Tomohon, barulah pihak keluarga berhasil mendapatkan kantung darah. Dengan tergesa-gesa, menerobos jalan guna memberikan harapan satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawa korban. Disayangkan, upaya tersebut tak lagi berarti. Korban meninggal dunia.

"Kami berharap waktu itu kepada pihak PMI Tomohon, agar ada kantung darah, waktu itu darahnya O Positif. Tapi, katanya kosong, nanti setelah kami menandatangani surat pernyataan, barulah kantung darah diserahkan. Itupun setelah proses negosiasi sekira 40 menit.  Tapi, akhirnya upaya kami sia-sia. Nyawa saudara saya tidak tertolong lagi. Kami kecewa dan meminta pertanggungjawaban pihak rumah sakit, kenapa ada pembiaran dan tidak ada upaya penyelamatan dari pihak medis," ujarnya dengan nada tinggi.

Sementara itu, Direktur RS Bethesda dr Frangky Kambey menyatakan, proses penanganan medis pada korban, nantinya menjadi ranah Tim Kode Etik Kedokteran, ada penelitian dan pengembangan mendalam terkait meninggalnya korban. Pihaknya pun menjamin, siap menerima konsekuensi apapun jika nantinya masalah ini dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Dirinya mengatakan, proses penanganan medis kala itu, telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.

"Kami juga menerima korban, setelah dirujuk dari RS Gunung Maria, yang belakangan kita dengar juga tak mendapatkan pelayanan prima. Segala upaya sesuai prosedur standar penanganan, telah dilakukan. Dan yang terpenting di sini, tidak tersedianya kantung darah menghambat proses penanganan medis. Ada resiko yang bisa terjadi, jika kita memaksakan proses pengobatan, pembiusan tanpa adanya kantung darah, sangat beresiko," beber Kambey.

Selain itu, pihaknya pun mencatat, sesuai dengan hasil rekam medik korban. Ada sedikit permasalahan bawaan, yang bersangkutan dengan kandungan korban. Hal ini, turut menyulitkan kondisi penanganan medis waktu itu.

"Prinsipnya kami tidak menginginkan adanya korban jiwa, ada sumpah yang dilakukan dokter sebelum melayani masyarakat. Dan dokter kandungan kala itu, ada di tempat, tapi tak bisa berbuat banyak. Karena kantung darah tidak tersedia," tukasnya.

Menurut Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sulut Helda Tirajoh, dengan adanya keluhan serta dugaan kelalaian itu menunjukkan pelayanan yang kurang baik dari rumah sakit. Bukan hanya itu, Tirajoh juga mengatakan, bahkan bisa diduga ada maladimistrasi di situ. Tirajoh menilai, seharusnya ketersediaan darah harus siap di RS Bethesda Tomohon.

"Di setiap RS tidak boleh habis persediaan darah. Jadi kalau memang ada darah yang kosong, atau benar apa yang disampaikan keluarga korban, maka kepala rumah sakit di RS Bethesda yang harus bertanggung jawab. Karena ini menyangkut terhadap pelayanan yang tidak maksimal sesuai UU 25/2009. Ini juga, menunjukkan pihak rumah sakit diduga belum punya standar pelayanan publiknya," timpalnya.

Dirinya juga menilai jika ada pelanggaran dari kasus kematian di RS Bethesda, maka akan ada sanksi yang akan diberikan. Namun pemeriksaan memang harus dilakukan, agar ada kecocokan data baik aduan masyarakat dan hasil klarifikasi yang dilakukan ORI. Namun memang, setiap RS harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi jika memang terdapat kelalaian.(jul)

Kirim Komentar