08 Jun 2019 09:47

ORI Sorot Ekstrakulikuler Sekolah

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Sektor pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut) harus segera mungkin dievaluasi. Hal ini disampaikan Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Helda Tirajoh, Jumat (7/6).

 

Menurut Tirajoh, pendidikan di Sulut selalu mengejar kegiatan ektrakurikuler dibandingkan belajar mengajar. Padahal, menurutnya, kegiatan ekstrakurikuler bukanlah hal yang utama. Dan itu, ungkapnya, harus segera mendapatkan perhatian jika tidak ingin pendidikan Sulut semakin merosot.

"Kita selalu menyampaikan hal ini. Bahwasanya pendidikan di Sulut masih selalu mengejar kegiatan ektrakurikuler. Padahal kegiatan ini bukanlah hal yang utama. Yang harus dikejar itu kegiatan belajar mengajar.

Jadi kesimpulannya, kegiatan ekstrakurikuler harus di evaluasi lagi. Dan harus mendapatkan perhatian khusus. Karena sangat miris jika pendidikan di Sulut turun sampai peringkat ketiga terbawah," tuturnya.

Tirajoh, mengatakan, dari kacamata ORI saat ini harus ada evaluasi bagi guru dan sekolah yang selalu mengejar target kegiatan ekstrakurikuler tetapi tidak ada target mengejar hasil atau kualitas pendidikan.

Bahkan saat ini di Sulut, menurutnya, sekolah juga mengejar nama favorit, bukan kualitas pendidikan. Padahal kualitas pendidikan ini, yang ungkapnya, harus menjadi perhatian dan hal utama yang dikejar.

"Yang kami amati memang betul pendidikan di Sulut menomorduakan kualitas pendidikan. Padahal ini sangat penting. Dan menjadi hal utama dalam dunia pendidikan. Bukan hanya mengejar kegiatan ekstrakurikuler. Apalagi ada sekolah yang mengejar nama sekolah favorit. Sangat disayangkan, ada komite sekolah, tetapi banyak komite sekolah tidak mengevaluasi kualitas pendidikan. Hanya target bagaimana menambah dana bagi sekolah. Ini sangat memprihatikan bagi kita," ujarnya.

Dari hasil amatan ORI, Tirajoh mengatakan, ada sekitar 70 persen sekolah yang tidak menomorsatukan kualitas pendidikan melalui kegiatan belajar mengajar. Yang ada, menurutnya, sekolah-sekolah tersebut lebih menomorsatukan kegiatan ekstrakurikuler.

Dan ini, ungkapnya, sudah pernah pihaknya temui. Bahkan ada sekolah di Sulut yang memiliki 20-an jenis kegiatan ekstrakurikuler. Menurutnya, hal itu sangat menganggu proses belajar mengajar.

"Jadi banyak sekolah yang mementingkan keuntungan. Bagaimana menambah pendapatan. Tanpa memikirkan kualitas pendidikan. Karena dari amatan kita, ada 70 persen sekolah yang tidak menomorsatukan kualitas pendidikan. Yang jadi utama itu adalah kegiatan ekstrakurikuler.

Yang buat kita kaget lagi, ada sekolah yang memiliki 20-an kegiatan ekstrakurikuler. Otomatis ini mengganggu proses belajar mengajar. Dan yang utama juga, kepala dinas pendidikan harus mengawasi dan evaluasi kepala sekolah dan jajaran, serta bagaimana menaikan kualitas pendidikan dalam proses belajar mengajar," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur IPDN Sulawesi Selatan (Sulsel) yang juga mantan Wakil Gubernur Sulut Djouhari Kansil mengatakan, saat ini yang perlu dibenahi adalah kualitas tenaga pendidik.

Menurutnya, masih banyak tenaga pendidik di Sulut yang melek teknologi. Padahal menurutnya, pengetahuan tentang teknologi dalam era perubahan globalisasi sangat penting untuk dikuasai tenaga pendidik dan menerapkan dalam setiap proses belajar mengajar.

"Di sekolah-sekolah itu banyak guru yang mengajar dengan gaya lama. Hanya menggunakan buku, lalu menerangkan semua kepada murid. Ini proses belajar mengajar yang lama. Harus menerapkan teknologi. Ya memang diakui, masih ada guru yang belum melek teknologi.

Bahkan untuk urusan teknologi, masih siswa-siswi mereka yang lebih pandai. Apalagi jika siswa-siswi tersebut sudah duduk di bangku SMA dan SMK. Sangat disayangkan jika tenaga pendidik tidak mampu mengadaptasi perkembangan teknologi. Otomatis pendidikan kita bakal lagi tertinggal," imbuhnya.

Pemerhati pendidikan Sulut ini sangat berharap, dengan berubahnya wewenang SMA dan SMK ke provinsi, maka ada anggaran yang lebih untuk perbaikan sektor pendidikan. Karena menurutnya, bukan hal mudah memperbaiki lagi sekolah yang notabenenya ada di 15 kabupaten/kota.

Namun dengan disiplin dan kerja keras, maka kualitas pendidikan Sulut bisa kembali naik. Kansil juga mengatakan, jika evaluasi setiap kinerja dari tenaga pendidik harus dibuat rutin. Karena kualitas hasil pendidikan sudah perlu peningkatan.

"Kita tahu bahwa bukan hal mudah menjadi penanggung jawab sekolah di 15 kabupaten/kota. Perlu kerja keras tentunya, namun untuk saat ini pendidikan di Sulut sudah turun drastis. Harus ada peningkatan. Ya salah satunya evaluasi tenaga pendidik harus dilakukan. Peran cabang dinas harus intens.

Mereka harus rutin turun ke sekolah untuk melakukan pengawasan. Kan sudah jadi tanggung jawab cabang dinas untuk mengawasi. Tanpa sekolah tersebut tahu, mereka punya hak untuk turun. Jika ada yang tidak sesuai prosedur, langsung diberikan peringatan. Agar ada efek jerah dan pendidikan Sulut semakin baik," tandasnya. (tr-02/can)

Kirim Komentar