01 Jun 2019 09:20

Banteng Kuasai 16 Provinsi

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—PDI Perjuangan berhasil meraih 20,3 persen suara di pileg 2019, se-Indonesia. Ini jadi kemenangan berturut PDI Perjuangan di pemilu. Sesuai data KPU-RI, PDI Perjuangan unggul di 16 provinsi.

 

PDI Perjuangan juga memecahkan rekor kemenangan pada pemilu legislatif pasca-reformasi. Dengan menang dua kali berturut-turut. Kepemimpinan Megawati Soekarnoputri dan Jokowi effect dinilai jadi modalnya.

Hasil rekapitulasi suara nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebutkan PDIP sebagai peraih suara tertinggi pada Pileg 2019. 'Banteng' disebut mendapat 27.053.961 suara atau 19,33 persen suara sah di Pemilu 2019.

Kemenangan PDIP kali ini mengulang kemenangannya saat gelaran Pileg 2014 dengan raihan 23.681.471 atau 18.95 persen suara. Perolehan suara PDIP kali ini pun mengalami kenaikan dibanding pemilu 2014.

"Sejak Pemilu 1999, untuk pertama kalinya dua pemilu legislatif terakhir berturut-turut dimenangi oleh satu partai, yaitu PDIP," kata Pengamat politik dari Universitas Paramadina Arif Sutanto, dilansir dari CNNIndonesia.com.

Dia mengatakan kemenangan PDIP dua kali berturut-turut itu tak lepas dari berbagai faktor modal kekuasaan yang dimilikinya saat ini.

Faktor pertama, Arif menyebut kuatnya kepemimpinan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri masih memegang peran kunci dalam mendongkrak suara PDIP di Pemilu 2019 ini. Arif menilai sosok Megawati menjadi perekat bagi para kader PDIP dan menjaga soliditas parpol.

"Di bawah kepemimpinan Megawati, PDIP mampu menjaga soliditas partai, sementara beberapa partai lain mengalami friksi berkelanjutan yang menggoyahkan keseimbangan organisasi," kata dia.

Meski begitu, Arif menyatakan ada kekurangannya saat PDIP terus-menerus dipimpin Megawati. Ia khawatir pemusatan kekuasaan itu membuat 'Banteng' memiliki ketergantungan dan akan memperlemah independensi organisasi.

"PDIP sendiri harus mewaspadai gejala sentralisasi kekuasaan dan ketergantungan terhadap personalitas Megawati. Ini berpotensi dapat memperlemah otonomi organisasi," kata dia.

Faktor kedua, Arif menilai PDIP turut mendapatkan keuntungan besar dari efek ekor jas atau coat-tail effect atas pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden. Sebab, kata dia, PDIP sendiri merupakan salah satu partai pengusung sekaligus partai tempat Jokowi bernaung.

"Kemampuan Jokowi untuk menjaga relasi dengan elite partai dan dengan massa pemilih memberi kontribusi bagi rendahnya split voters di kalangan pemilih," kata dia.

Sosok Jokowi, yang merupakan kader PDIP, disebut ikut mengerek suara 'Banteng'.Sosok Presiden Jokowi, yang merupakan kader PDIP, disebut ikut mengerek suara 'Banteng'.

Faktor ketiga, lanjut Arif, PDIP masih memiliki basis pemilih yang kuat dan loyal, terutama di Pulau Jawa. Hal ini terbukti dengan kemenangan PDIP di Jawa Tengah dan Jawa Timur di Pileg 2019.

"Ini berkat konsistensi mereka pada periode 2009-2014. Namun, mereka pun patut mengambil pelajaran dari kegagalan sebagian calon yang mereka usung pada Pilkada serentak 2017 dan 2018," kata dia.(cnn)

Kirim Komentar