25 Mei 2019 08:43

Penyaluran Salah Sasaran, Ratusan Gas Subsidi Ditemukan di Restoran

MyPassion
Tim gabungan melakukan sidak gas elpiji 3 Kg di salah satu restoran di Kota Manado. (Asyer/MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Penyaluran gas elpiji bersubsidi 3 Kilogram (Kg) ditengarai belum tepat sasaran. Pasalnya ada sejumlah restoran masih menggunakannya.

Hal ini berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) tim inflasi. Terdiri dari Pertamina, Bank Indonesia, Bidang Perekonomian dan SDM Pemerintah Provinsi sulut, Disperindag Provinsi Sulut, Bidang Ekonomi Pemerintah Kota Manado dan Satpol-PP kota Manado.

Sales Executive LPG Pertamina Area Manado Parrama Ramadhan mengatakan, ini merupakan tim yang dibentuk gubernur. Guna mengawasi penggunaan elpiji, agar tepat sasaran. "Demi pengendalian inflasi dalam menyambut Idul Fitri, turut hadir juga Bank Indonesia," ungkapnya.

Dia membeber, pihaknya melakukan sidak di lima restoran di Manado. Didapati sekira 106 tabung elpiji 3 kg sengaja digunakan untuk keperluan usaha. "Kami langsung tukar dengan bright gas 5,5 kg untuk tabung elpiji 3 Kg," bebernya.

Dia berharap, dengan kegiatan sidak ini harga elpiji di lapangan dapat terjaga. "Dan tentu tepat sasaran. Kami ingin tetap melakukan pengendalian agar kebutuhan masyarakat tetap tersedia," ucapnya.

Dia berjanji kegiatan seperti ini akan terus dilakukan guna menjaga kestabilan harga di masyarakat. "Entah dalam waktu dekat ataupun selesai Idul Fitri, pihaknya pasti akan kami lakukan sidak lagi," sebutnya.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat yang turut serta dalam sidak tersebut mengatakan, ini bukti tabung 3 kg merupakan jatah masyarakat miskin tidak tepat sasaran.

"Ini cikal bakal kelangkaan. Berhubungan dengan harga. Kami mempunyai kepentingan dengan itu. Sebab kalau barangnya langka maka harga naik. Ini menyebabkan inflasi kita tinggi," sebutnya.

Dia mengungkapkan, dari sidak ini membuktikan ada oknum tidak seharusnya membeli elpiji 3 kg, tapi diizinkan. Bahkan boleh memborong besar-besaran.

"Kalau ada 100 restoran begini, bila di kali 30 tabung maka ada 3.000 tabung. Ini merupakan jatah 3.000 kepala keluarga yang tidak tepat sasaran," ucapnya.

Dia berharap, ke depan dunia usaha di Sulut bisa taat asas dan aturan. "Ini tidak adil bagi masyarakat miskin. Harusnya disubsidi akhirnya subsidi itu jatuh kepada mereka yang tidak berhak. Ini akan terus konsisten lakukan ini," pungkasnya. (tr-05/gel)

Kirim Komentar