25 Mei 2019 08:20

Kucur Rp 90 Miliar Untuk Pariwisata, Investor Perancis Lirik Sulut

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Sejumlah upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara guna meningkatkan penerimaan daerah. Dari sektor pariwisata lebih khusus, menyusul dengan terjalinnya komunikasi bersama investor dari Perancis.

Yang dikabarkan bakal mengucur anggaran sekira Rp. 90 Miliar. Hal ini tentunya, berbanding lurus dengan peresmian KEK Pariwisata di Likupang Kabupaten Minahasa Utara, baru-baru ini.

“Iya benar, baru-baru ini kita berdiskusi dengan investor dari Perancis. Arahnya ke sektor pariwisata. Dengan total investasi kurang lebih Rp.90 Miliar. Dune-Network sebagai calon investor telah melakukan survei sejumlah lokasi di Sulut. Daerah di Likupang jadi salah satu lokasi yang diminati mereka (investor, red),” terang Sekretaris Provinsi Sulut Edwin Silangen.

Kemudahan sistem dan regulasi yang gencar didorong pemerintah pusat, yang ditransfer ke seluruh daerah. Diyakininya jadi penarik minat para pelaku usaha, baik dari dalam dan luar negeri.

“Dan pola ini juga, sudah sewajibnya diaplikasikan oleh seluruh pemerintah di daerah. Kan spesifikasi daerah di Sulut beda-beda, ada Bolmong dengan tambangnya, Tomohon punya sejuta pesona pariwisata dan kabupaten kota lainnya. Intinya, kita mempermudah tapi tidak kebablasan juga,” terang dia.

Sebelum investor dari Perancis tersebut, diketahui sejumlah pelaku usaha kelas internasional pun telah merambah Nyiur Melambai. Sebut saja, PT Conch dengan investasi jangka panjang, rencana CT Corp perusahaan multi sektor milik Chairul Tandjung pun dikabarkan bakal menanamkan modalnya sebesar Rp 3 Triliun di Sulut. Dengan pariwisata dan jasa jadi bidang yang bakal disasar nantinya.

Hal ini tentunya mendukung pemerintah, yang tahun ini menargetkan penerimaan investasi kurang lebih Rp.12 Triliun.

Salah satu hal yang dirasa masih perlu di dorong  , dikatakan Kepala BI Sulut Arbonas Hutabarat melalui Asisten Direktur Gunawan, bagaimana realisasi investasi di Sulut bisa mendorong sektor riil, seperti pertanian dan perkebunan.

Bukan tanpa alasan, seluruh pabrik atau pelaku ekspor yang ada di Sulut hanya mengemas bahan baku dengan jumlah relatif sedikit.

Padahal, jika hal tersebut dimaksimalkan, selain memberikan dampak positif bagi perekonomian Sulut secara makro. Dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

“Misalnya, pabrik kelapa di Sulut. Hanya mengolah produk ini sampai ke turunan ke empat misalnya. Sedangkan di negara lain, bisa menghasilkan sampai 10 produk turunan. Ini yang masih perlu digenjot.

Sembari menambahkan, perbaikan kualitas SDM juga wajib diutamakan pemerintah daerah. Sehingga, saat waktunya nanti, volume investasi dan pembukaan berbagai macam lapangan usaha. Putra-putri daerah, bisa ikut langsung dalam operasionalnya nanti, bukan hanya sebagai pelengkap dari sistem satu usaha.

“Karena dari sisi penjaminannya, atau gaji di Sulut. Bisa dikatakan sudah maksimal, tergantung juga dari mindset SDM-nya, mau berkembang dan berkompetisi? Jika tidak, pastinya bakal tertinggal,” pungkasnya.

Senada, Ekonom Joy Tulung menambahkan, mengejar besaran realisasi investasi seyogyanya sejalan dengan perbaikan taraf hidup masyarakat. Dikarenakan, prioritas keberhasilan pemerintah di daerah, pastinya dinilai dari sejauh mana, kebijakan yang dilakukan berdampak penuh pada masyarakat.

“Jangan hanya menguntungkan para investor saja. Misalnya, pembebasan lahan untuk pabrik atau jalan tol. Masyarakat wajib dilibatkan, guna mencapai kesepakatan bersama. Bukan sebaliknya, menjadi korban akibat memuluskan investasi,” tukasnya. (jul)

Kirim Komentar