25 Mei 2019 08:12

Imam Masjid Selipkan Bahasa Tombulu di Buka Puasa Universitas Kristen dan Muslim Jatom

MyPassion
Buka puasa UKIT YPTK dengan umat Muslim Kampung Jawa Tomohon, Jumat (24/5). (Wailan Montong/MP)

Kampung Jawa Tomohon (Jatom) terus menyimpan kearifan lokalnya. Kelurahan yang didominasi penduduk beragama Islam ini, masih kental dengan penggunaan bahasa Tombulu.

Laporan: Wailan Montong, Tomohon

IMAM masjid Nurul Iman yakni Suharto Agusalam kala menjelaskan kehidupan sosial masyarakat Kampung Jawa di hadapan mahasiswa dan rektorat UKIT Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK), sering terselip bahasa Tombulu.

Saat dialog buka puasa bersama dan pemberian diakonia dari YPTK, Jumat (24/5) seorang mahasiswi menanyakan bagaimana kehidupan umat Muslim di Kampung Jawa Tomohon. “Dalam berkehidupan sosial di daerah mayoritas beragama non muslim?,” tanya Jennifer.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab Suharto Abusalam, selaku Imam Masjid. “Kami tentunya sudah terbiasa, bukan hanya saat perayaan hari besar. Sedangkan kala duka bersama-sama dalam menggali kubur. Pahkuan nera matuari peleng yang artinya dorang bilang torang basudara samua,” jelas Imam keturunan ketujuh dari penghulu Abusalam, yang merupakan salah satu pendiri Kampung Jawa Tomohon bersama Tubagus Buang ini.

Dirinya juga mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya tinggal di Kampung Jawa. “Di sini ada seorang hajah yang menantunya merupakan pendeta. Jadi jangan heran kalau saat hari raya, satu kampung beragama non muslim bersilahturahmi di rumah umat kami di sini,” jelasnya.

Menurut cerita, orangtua di zaman permesta banyak masyarakat di sini yang menyingkir dan tinggal bersama-sama dengan umat yang lain.

“Ada yang menyingkir ti wenang (pergi ke Manado), ada yang menyingkir si ti Tumatangtang (ke Tumatangtang). Tinggal dan makan dalam satu piring dengan keyakinan yang berbeda,” jelas imam berusia 51 tahun ini.

Hal tersebut mendapat apresiasi dari Rektor Pdt Richard Siwu. “Tidak dapat dipungkiri, saat ini sudah jarang masyarakat Tomohon menggunakan bahasa Tombulu,”  ungkap Pdt Siwu.

Pdt Siwu pun menuturkan, maksud utama acara yang bertemakan ‘Kasih Mempererat Tali Silahturahmi Kerukunan’. “YPTK mengucap syukur akan makna Paskah Kristus dengan memberikan diakonia bagi umat Muslim di sini. Ungkapan rasa kebersamaan dalam keberagaman, saling menerima satu sama lain menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat,” jelas Pdt Siwu. Di akhir acara, diadakan pemberian diakonia secara simbolis dari YPTK ke perwakilan BTM Nurul Iman Kamping Jawa. Selanjutnya umat Muslim menunaikan shalat tarawih.(wam/gnr)

Kirim Komentar