23 Mei 2019 12:28

Atap Rumbia di Kotamobagu Banyak Diminati

MyPassion
Pengrajin atap rumbia di Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Mongkonai Barat. Foto diambil, Rabu (22/5) kemarin.(Claudia/Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM—Atap tradisional dari daun kelapa atau rumbia di Kotamobagu masih terbilang laris. Meski banyak bangunan sudah menggunakan genteng dan seng, namun tidak membuat atap rumbia tersingkirkan.

Menurut salah satu pengrajin Neni Pasambuna (65), hasil kerajinannya itu banyak diminati pengusaha-pengusaha cafe. “Juga yang akan membuat gubuk di kebun. Kalau untuk cafe biasanya untuk pondok-pondok lesehan,” beber warga Kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan yang sudah 10 tahun menganyam atap tradisional ini.

Dia mengatakan, dalam sehari Nene Tirsa sapaan akrabnya, sanggup membuat 15-20 lembar atap rumbia yang kemudian disusun pada halaman depan rumahnya. "Bahan dasarnya gratis sehingga tidak butuh modal yang besar untuk membuat atap rumbia ini. Apalagi bahan bakunya mudah ditemukan di sekitar kebun kemudian dibawa ke rumah untuk dijadikan atap tradisional," tuturnya.

Menurut dia, setiap lembar dihargai Rp 8 ribu. Semakin kering semakin kuat dan anti bocor. Makanya, sebagian besar pembeli memilih atap yang sudah kering. “Alhamdulillah langganannya sudah ada. Meski tidak begitu banyak, namun mampu memberikan hasil yang baik. Mudah-mudahan ke depan bisa berkembang," tukasnya.(tr-06/ite)

Kirim Komentar