23 Mei 2019 09:18

April, Neraca Perdagangan Sulut Surplus US$ 52 juta

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Nilai ekspor non-migas Provinsi Sulawesi Utara, di Bulan April 2019, tercatat sebesar US$ 55,97 juta. Sementara itu, bulan lalu Sulut mendatangkan barang impor senilai US$ 3,97 juta. (Angka Sementara).

Dikatakan Kepala BPS Sulut Ateng Hartono melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi Marthedy Tenggehi. Jika di diversifikasi dari jenis komoditasnya, peran lemak dan minyak hewan/nabati. Masih mendominasi ekspor Nyiur Melambai selang satu dekade belakangan.

“Sumbangsihnya senilai US$ 20,69 juta (36,97% dari total ekspor), sedangkan untuk komoditas impor terbesar adalah Bahan Kimia Organik, senilai US$ 1,66 juta (41,90% dari total impor). Jika dikaji dari negara tujuan ekspor sendiri, Bulan April lalu Sulut paling banyak mengirimkan komoditasnya ke Amerika Serikat US$ 12,99 juta.

Sedangkan negara pengimpor terbesar bagi kita adalah Malaysia dengan total nilai impor sebesar US$ 1,85 juta. Alhasil, dari capaian tersebut neraca perdagangan Sulut Bulan April sebesar US$ 52 juta,” terangnya.

Meski surplus, nyatanya, lanjut Tenggehi nilai ekspor secara keseluruhan mengalami penurunan nilai sebesar 18,66 persen. Jika  dibandingkan Maret 2019 yang senilai US$ 68,81 juta (m-to-m)

“Sementara jika dibandingkan dengan bulan yang sama Tahun 2018 (y-on-y) juga mengalami penurunan, sebesar 44,24 persen,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Sulawesi Utara Jenny Karouw menyatakan, iklim perdagangan serta suhu politik global. Turut mempengaruhi dalam volume ekspor-impor Sulut. Dirinya mencontohkan, jika nilai tukar mata uang rupiah melemah, cenderung mendorong besaran impor ke Sulut makin banyak.

“Misalnya bea masuk barang impor setara, Rp.15 ribu per 1 dolar. Dan rupiah terus melemah, misalnya sampai ke level Rp.30.000 artinya ada dua barang impor masuk, dan sebaliknya barang kita yang keluar, wajib membayar bea impor mereka.

Perang dagang antar AS dan Tiongkok, pastinya berpengaruh ke kita juga.Yang perlu dilakukan sekarang, bagaimana mencari pintu ekspor yang baru, dengan efisiensi biaya yang maksimal. Itulah, kenapa kita gencar mendorong produk kelapa kita ke Eropa, seperti Belanda dan Afrika,” papar Karouw.

Sementara itu, Ekonom Robert Winerungan menambahkan, menambah nilai jual produk ekspor. Wajib untuk terus diseriusi, tak hanya pemerintah namun para pelaku usaha juga. Sehingga, meski bea yang dikenakan besar, tapi sebanding dengan volume permintaan. Besaran profit yang dihasilkan diyakini masih memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha.

“ Jangan karena biaya pengirimannya mahal, kita justru pasrah dan cenderung tak mau berinovasi mengembangkan produk kita. Ini yang perlu diperhatikan para eksportir juga,” sebutnya.  (***)

Kirim Komentar