20 Mei 2019 08:54

Jangan Ganggu Tugas Guru, Evaluasi Pendidikan Sulut Mendesak

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Sektor pendidikan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terus disorot. Akibat buruknya ranking hasil ujian nasional berbasis komputer (UNBK) 2019. Jenjang SMA/SMK.

 

Salah satu faktor penyebabnya adalah para guru mulai disibukkan dengan ‘urusan’ lain. Yang jauh dari tugas pokok, dan fungsi (tupoksi) pengajar. Apalagi di musim pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (pilkada). Guru sering dijadikan alat politik.

Ketua Umum Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Sulut Drs David Legi mengatakan, wajib ada regulasi mengikat semua pemangku kepentingan. Pengawas, kepala sekolah dan guru, agar lebih fokus pada tupoksi masing-masing.

“Ada kecenderungan tiga pilar utama tersebut (kepsek, pengawas, guru), yang sebagai operator pendidikan lebih disibukkan dengan kegiatan di luar tupoksinya,” kritik Legi, yang juga sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Manado.

Menurutnya, walaupun hasil UN bukan satu-satunya indikator penentu kualitas pendidikan, tetapi peringkat 31 dan 32 SMA/SMK se-nasional sangat memprihatinkan.

“Pada tataran regulator, perlu memikirkan adanya payung hukum berupa perda, yang menjadi acuan kebijakan dan strategi pelaksanaan layanan pendidikan bermutu yang sesuai dengan kebutuhan daerah,” ujar Legi, saat wawancarai Manado Post.

Ditanya apa faktor utama hasil UNBK Sulut jeblok? Penyebabnya disebutkan karena pembelajaran kurang efektif. “Kalau dibedah lebih jauh, maka kebijakan strategis bidang pendidikan daerah provinsi, disebabkan karena ada kekosongan payung hukum berupa perda pendidikan, yang harusnya menjadi landasan yuridis layanan pendidikan berkualitas,” tukasnya.

Akademisi Dr Meiske Rinny Liando menambahkan, di era Revolusi Industri 4.0 rupanya kecerdasan intelektual tidak lagi menjadi satu-satunya landasan keberhasilan anak khususnya di dunia kerja. “Banyak yang menganggap soft skill lebih utama dari pada segalanya,” ujar pengamat pendidikan dari Unima tersebut.

Menurutnya, minat dan bakat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, tidak heran jika di Sulut 70 persen persekolahan lebih mengejar peringkat ekstrakurikuler tanpa mengedepankan kualitas pendidikan. “Bahkan ada sekolah yang lebih memikirkan keuntungan atau pendapatan,” katanya saat wawancarai Manado Post.

123
Kirim Komentar